NEWS.KOBA.CO.ID. Ribuan boneka memenuhi sebuah kuil di Jepang, menghadirkan pemandangan yang memikat sekaligus menyimpan kesan misterius. Namun, boneka-boneka itu bukan sekadar pajangan atau koleksi mainan lama. Dalam tradisi Nagashi-Bina, masyarakat Jepang menghanyutkan boneka ke sungai atau laut sebagai simbol pelepasan kesialan, penyakit, dan kemalangan.
Tradisi yang berakar pada kepercayaan Shinto ini menjadi bagian penting dari sejarah Hina Matsuri, perayaan Hari Anak Perempuan di Jepang. Melalui ritual tersebut, masyarakat berharap anak-anak perempuan tumbuh sehat dan terhindar dari berbagai marabahaya. Hingga kini, sejumlah daerah masih mempertahankan tradisi itu sebagai warisan budaya yang menghubungkan kehidupan modern dengan kepercayaan leluhur.
Nagashi-Bina, Ritual Kuno untuk Menjauhkan Kesialan
Nagashi-Bina, yang ditulis 流し雛 dalam bahasa Jepang, secara sederhana merujuk pada tradisi menghanyutkan boneka. Ritual ini berkaitan dengan konsep pemurnian spiritual atau harae dalam kepercayaan Shinto. Masyarakat memindahkan simbolis kemalangan seseorang ke boneka, kemudian menghanyutkannya agar kemalangan tersebut menjauh.
Dalam praktik tradisional, masyarakat menggunakan boneka sederhana dari kertas atau bahan alami. Mereka tidak memperlakukan boneka itu sebagai koleksi berharga, melainkan sebagai perantara simbolis untuk melepaskan nasib buruk. Ketika arus membawa boneka menjauh, mereka berharap penyakit dan kemalangan ikut pergi.
Tradisi ini berkembang sejak Periode Heian, yang berlangsung pada 794–1185. Catatan budaya Jepang menggambarkan praktik pemurnian melalui boneka dalam berbagai bentuk. Seiring waktu, tradisi tersebut ikut membentuk perkembangan Hina Matsuri yang masyarakat Jepang rayakan setiap 3 Maret.
Meski saling berkaitan, Nagashi-Bina dan Hina Matsuri memiliki penekanan berbeda. Hina Matsuri modern identik dengan boneka Hina Ningyo yang keluarga pajang dalam susunan khusus. Sebaliknya, Nagashi-Bina menekankan ritual pelepasan kemalangan melalui boneka yang dihanyutkan.
Kuil Awashima Jinja, Pusat Tradisi Boneka di Jepang
Salah satu tempat yang terkenal dengan ritual penghanyutan boneka ialah Kuil Awashima Jinja di Kota Wakayama, Prefektur Wakayama. Kuil ini dikenal luas sebagai tempat suci yang berkaitan dengan doa dan harapan bagi perempuan. Koleksi boneka dalam jumlah besar menjadi salah satu ciri khas yang menarik perhatian pengunjung.
Menurut kepercayaan setempat, kuil tersebut mengabadikan Sukunahikonanomikoto, sosok dewa yang masyarakat kaitkan dengan pengobatan. Banyak orang datang untuk memanjatkan doa mengenai kesehatan perempuan dan keselamatan saat melahirkan. Karena itu, Awashima Jinja memiliki kedudukan khusus dalam tradisi spiritual yang berkaitan dengan kehidupan perempuan.
Setiap 3 Maret, kuil ini menggelar ritual Hina Nagashi sebagai bagian dari tradisi boneka Jepang. Dalam upacara tersebut, panitia menempatkan boneka-boneka di atas perahu khusus. Mereka kemudian melarungkan perahu itu ke laut sebagai simbol pelepasan kesialan dan penyakit.
Gelombang laut perlahan membawa perahu menjauh dari pantai. Pemandangan tersebut memperlihatkan hubungan antara ritual, alam, dan harapan masyarakat terhadap kehidupan yang lebih baik. Bagi pengunjung, upacara ini juga menawarkan kesempatan untuk memahami sisi spiritual kebudayaan Jepang.
Ribuan boneka yang memenuhi area kuil menciptakan suasana berbeda dari tempat wisata pada umumnya. Sebagian pengunjung mungkin merasakan kekaguman, sementara yang lain menangkap kesan sunyi dan misterius. Namun, bagi masyarakat yang menjalankan tradisi tersebut, boneka-boneka itu memiliki makna keagamaan dan budaya yang jauh melampaui penampilannya.
Menghanyutkan Harapan di Sungai Tokyo
Tradisi Nagashi-Bina juga hadir dalam bentuk Edo Nagashibina di Tokyo. Dalam upacara ini, peserta menghanyutkan perahu kecil berisi boneka di sungai. Ritual tersebut membawa pesan serupa, yakni melepaskan kemalangan dan mendoakan kesehatan anak-anak perempuan.
Gadis-gadis kecil mengenakan kimono berwarna cerah saat mengikuti upacara. Mereka membawa boneka sederhana yang biasanya terbuat dari kertas atau bahan alami. Selanjutnya, pemimpin upacara atau para tetua menempatkan boneka-boneka itu di atas perahu.
Peserta kemudian melepas perahu ke aliran sungai. Ketika perahu bergerak semakin jauh, mereka memaknainya sebagai simbol hilangnya kemalangan yang mungkin mengiringi masa depan anak-anak. Dengan demikian, Edo Nagashibina menjadi ritual pemurnian sekaligus ungkapan kasih sayang keluarga.
Masyarakat biasanya menggelar Edo Nagashibina pada awal Maret, berdekatan dengan Hina Matsuri. Pengunjung dapat menyaksikan upacara tersebut untuk mengenal tradisi Jepang dari dekat. Meski demikian, pelaksanaan dan tata cara kegiatan dapat berbeda menurut penyelenggara serta kondisi setempat.
Beradaptasi dengan Kesadaran Lingkungan
Seiring perubahan zaman, tradisi menghanyutkan boneka menghadapi tantangan baru. Kekhawatiran terhadap pencemaran sungai dan laut mendorong penyelenggara mempertimbangkan dampak lingkungan. Karena itu, pelestarian tradisi perlu berjalan beriringan dengan tanggung jawab menjaga alam.
Masyarakat Jepang juga memiliki beragam kebiasaan untuk memperlakukan benda lama secara hormat, termasuk boneka. Sebagian orang menghubungkan kebiasaan tersebut dengan kepercayaan bahwa benda tertentu menyimpan nilai emosional atau spiritual. Namun, keyakinan mengenai roh boneka tidak mewakili pandangan seluruh masyarakat Jepang.
Nagashi-Bina menunjukkan bagaimana tradisi dapat menyampaikan pesan melalui tindakan sederhana. Boneka menjadi lambang kemalangan yang ingin dilepaskan, sedangkan air melambangkan perjalanan menuju kehidupan baru. Di balik prosesi yang terlihat unik, tersimpan harapan universal agar keluarga hidup sehat, aman, dan bahagia.
Kini, Nagashi-Bina tidak hanya menarik perhatian sebagai ritual keagamaan. Tradisi ini juga memperkenalkan sejarah, seni, dan cara pandang masyarakat Jepang kepada generasi baru. Melalui pelestarian yang memperhatikan lingkungan, warisan budaya tersebut berpeluang terus hidup tanpa kehilangan makna utamanya.













