NEWS.KOBA.CO.ID – Jepang memiliki banyak tradisi unik yang masih bertahan di tengah modernisasi. Salah satu yang paling menarik adalah Seijin Shiki, upacara kedewasaan yang menjadi simbol penting bagi generasi muda Jepang.
Tradisi ini bukan sekadar seremoni tahunan. Seijin Shiki menjadi penanda bahwa seorang pemuda telah memasuki fase baru dalam hidupnya. Mereka sudah tidak lagi anak-anak, tetapi telah menjadi bagian penuh dari masyarakat yang memiliki hak dan tanggung jawab sebagai orang dewasa. Setiap tahun, ribuan pemuda dan pemudi Jepang mengenakan pakaian terbaik mereka untuk mengikuti upacara tersebut. Suasana meriah, penuh kebanggaan, dan sarat makna membuat Seijin Shiki menjadi salah satu tradisi yang paling banyak yang menantikannya.
Perayaan Kedewasaan yang Sarat Makna
Seijin Shiki merupakan upacara resmi yang penyelenggaraannya adalah pemerintah daerah di seluruh Jepang. Acara Hari Kedewasaan atau Seijin no Hi jatuh pada hari Senin minggu kedua bulan Januari. Tradisi tersebut menjadi momen penting bagi generasi muda yang memasuki usia dewasa. Mereka berkumpul di aula kota, balai pertemuan, atau gedung pemerintahan untuk mengikuti rangkaian acara resmi.
Dalam upacara tersebut, para pejabat daerah biasanya memberikan pidato motivasi dan ucapan selamat kepada peserta. Setelah itu, peserta melakukan sesi foto bersama keluarga, sahabat, dan kerabat. Bagi masyarakat Jepang, Seijin Shiki bukan hanya tentang bertambahnya usia. Acara ini menjadi simbol pengakuan sosial bahwa seseorang telah siap menjalani kehidupan secara mandiri.
Selama bertahun-tahun, usia 20 tahun menjadi batas resmi seseorang dianggap dewasa di Jepang. Pada usia tersebut, mereka memperoleh berbagai hak dan kewajiban dalam kehidupan bermasyarakat. Mereka dapat mengikuti pemilu, mengambil keputusan penting secara mandiri, dan menjalankan tanggung jawab sosial lainnya. Selain itu mereka semua mengenakan kimono formal dan menghadiri upacara seijinshiki di kota kelahiran mereka. Bagi kaum muda, ini merupakan permulaan untuk menjadi anggota masyarakat yang ‘sebenarnya. Mereka bisa berpartisipasi dalam pemilu, minum alkohol secara legal, dan memulai kewajiban sosial lainnya.”
Momen Haru
Pemerintah Jepang memang telah menurunkan usia legal dewasa menjadi 18 tahun sejak 2022. Namun, sebagian besar pemerintah daerah masih mengundang warga yang berusia 20 tahun dalam perayaan Seijin Shiki. Perayaan ini tidak hanya bermakna bagi para peserta namun juga orangtuanya. Mereka merasakan kebanggaan dan haru ketika melihat anak-anak mereka memasuki fase baru kehidupan. Para orang tua menganggap prosesi ini sering salah satu momen terakhir yang mereka jalani bersama sebelum anak benar-benar mandiri selain pernikahan. Bagi ,ereka dapat merasa lebih lega dari tanggung jawab membesarkan anak-anak.
Meski demikian, hubungan orang tua dan anak tidak pernah benar-benar berakhir. Meskipun demikian, sebenarnya orang tua akan selalu menyayangi dan peduli terhadap anak-anak mereka sampai kapan pun meski sudah dewasa karena kasih orang tua sepanjang masa. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kedewasaan tidak menghilangkan ikatan keluarga yang telah terjalin sejak kecil.
Busana Tradisional yang Menjadi Daya Tarik
Salah satu hal paling menarik dari Seijin Shiki adalah pakaian para peserta. Kaum perempuan biasanya mengenakan furisode, yaitu kimono formal berlengan panjang dengan warna cerah dan motif yang indah. Mereka juga menata rambut dengan gaya tradisional yang elegan. Sementara itu, peserta laki-laki umumnya memilih setelan jas formal. Sebagian lainnya mengenakan hakama, pakaian tradisional Jepang yang biasa ada dalam acara resmi. Pemandangan ribuan anak muda mengenakan busana tradisional menjadi daya tarik tersendiri. Banyak wisatawan datang untuk menyaksikan perayaan tersebut secara langsung.
Seijin Shiki memiliki sejarah yang sangat panjang. Upacara kedewasaan sudah ada di Jepang sejak abad ke-8. Catatan sejarah menyebutkan bahwa tradisi tersebut telah mulaui berlangsung sejak tahun 714 Masehi. Saat itu, upacara adalah untuk pangeran muda sebagai tanda memasuki usia dewasa.
Prosesi tersebut salah satu tandanya adalah dengan penggunaan jubah baru dan perubahan gaya rambut. Kedua simbol itu menunjukkan bahwa seseorang telah memasuki tahap kehidupan yang baru. Setelah Jepang menetapkan Hari Kedewasaan pada 1948, perayaan Seijin Shiki rutin [ada setiap 15 Januari. Kemudian pada tahun 2000, pemerintah memindahkan perayaan ke hari Senin minggu kedua Januari melalui kebijakan Happy Monday System. Tujuannya untuk memberikan akhir pekan yang lebih panjang bagi masyarakat.
Simbol Tanggung Jawab Generasi Masa Depan
Di tengah perkembangan zaman, Seijin Shiki tetap memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat Jepang. Tradisi ini mengajarkan bahwa kedewasaan bukan hanya soal umur. Lebih dari itu, kedewasaan berarti kesiapan untuk bertanggung jawab terhadap diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.
Melalui Seijin Shiki, Jepang menunjukkan bagaimana sebuah tradisi dapat menjadi sarana pendidikan karakter yang kuat. Generasi muda tidak hanya sekedar perayaan , tetapi juga tentang peran besar yang akan mereka emban di masa depan. Karena itu, Seijin Shiki terus menjadi simbol perjalanan menuju kedewasaan yang dihormati dan dibanggakan oleh masyarakat Jepang hingga saat ini.













