NEWS.KOBA.CO.ID. Jepang menghadapi perubahan besar dalam cara masyarakat mempersiapkan masa tua. Ketika jumlah anak semakin sedikit dan masyarakat hidup lebih panjang, keluarga tidak lagi selalu menjadi tumpuan utama perlindungan hari tua.
Perubahan tersebut membuat keamanan ekonomi pada masa pensiun semakin bergeser menjadi tanggung jawab individu. Tabungan, asuransi, pensiun, dan jaminan sosial menjadi semakin penting dalam menghadapi masa depan.
Pengalaman Jepang menjadi salah satu sorotan dalam Expert Talk “The Future of Social Insurance: Managing Emerging Risks and Ensuring Sustainability based on Lessons from Japan and Indonesia”. Pusat Riset Ekonomi Perilaku dan Sirkuler BRIN menggelar forum tersebut bersama BPJS Ketenagakerjaan dan Universitas Katolik Parahyangan.
Forum berlangsung di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNPAR, Bandung, Selasa (6/10). Diskusi menghadirkan Prof. Shigenori Ishida dari Faculty of Administration, Tokyo Keizai University, Jepang, Yoshihiko Ono dari Japan Federation of Sharaushi, serta Eko Yuliadi, Deputi Bidang Pengawasan dan Pemeriksaan BPJS Ketenagakerjaan. Pembahasan Jepang menjadi penting bagi Indonesia karena perubahan demografi tidak berhenti pada persoalan jumlah penduduk. Struktur keluarga juga menentukan bagaimana seseorang menghadapi risiko ekonomi ketika memasuki usia lanjut.
Jepang dan Pergeseran Tanggung Jawab Hari Tua
Jepang menghadapi masyarakat yang semakin menua. Pada saat yang sama, angka kelahiran yang rendah membuat jumlah anak dalam keluarga semakin sedikit. Kondisi tersebut mengubah hubungan antargenerasi. Seseorang tidak selalu dapat mengandalkan anak untuk memberikan dukungan ketika memasuki usia lanjut.
Dalam keluarga dengan sedikit anak, beban perawatan dan dukungan ekonomi dapat menjadi lebih berat. Situasi tersebut semakin kompleks ketika seseorang hidup sendiri atau tidak memiliki anak. Karena itu, masyarakat Jepang semakin membutuhkan persiapan ekonomi secara individual. Keputusan mengenai pensiun, tabungan, asuransi, dan perlindungan masa tua menjadi bagian dari perencanaan kehidupan.
Persoalan tersebut memberikan pelajaran penting. Sistem jaminan sosial harus mampu mengikuti perubahan struktur keluarga, bukan hanya mengikuti perkembangan ekonomi.
Jepang Menghadapi Risiko dari Masyarakat yang Menua
Di sisi lain, jumlah penduduk usia produktif tidak tumbuh dengan kecepatan yang sama. Kondisi tersebut dapat memengaruhi keseimbangan antara kelompok yang membayar kontribusi dan kelompok yang menerima manfaat. Penuaan penduduk menciptakan tekanan terhadap sistem jaminan sosial. Semakin banyak penduduk memasuki usia lanjut, semakin besar pula kebutuhan terhadap perlindungan pendapatan dan layanan sosial.
Perubahan tersebut membuat keberlanjutan jaminan sosial menjadi perhatian penting. Pemerintah perlu memastikan sistem tetap mampu memberikan perlindungan tanpa mengabaikan perubahan demografi. Jepang menunjukkan bahwa persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya melalui kebijakan pensiun. Perubahan keluarga, pasar kerja, kesehatan, dan kebutuhan perawatan juga ikut memengaruhi keberlanjutan sistem.
Dari Keluarga Besar Menuju Keamanan Ekonomi Personal
Salah satu pelajaran penting dari Jepang terletak pada perubahan fungsi keluarga. Ketika keluarga semakin kecil, dukungan yang sebelumnya muncul secara alami dari keluarga menjadi semakin terbatas. Dulu, seseorang mungkin mengandalkan anak atau anggota keluarga lain ketika memasuki usia tua. Namun, pola tersebut semakin sulit dipastikan dalam masyarakat dengan angka kelahiran rendah.
Akibatnya, masyarakat harus memikirkan keamanan ekonomi sejak usia produktif. Persiapan pensiun tidak lagi sekadar persoalan ketika seseorang mendekati usia tua. Tabungan dan asuransi menjadi bagian dari strategi menghadapi ketidakpastian. Begitu pula sistem jaminan sosial yang memberikan perlindungan ketika seseorang kehilangan kemampuan bekerja.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa perubahan demografi dapat mengubah perilaku ekonomi masyarakat. Individu semakin perlu mengambil keputusan jangka panjang untuk menghadapi risiko kehidupan.
Pelajaran Jepang untuk Indonesia
Indonesia belum menghadapi struktur demografi yang sama dengan Jepang. Namun, perubahan keluarga dan pola kehidupan mulai menjadi bagian dari dinamika masyarakat Indonesia. Karena itu, pengalaman Jepang dapat menjadi bahan pembelajaran. Indonesia memiliki kesempatan mempersiapkan sistem perlindungan sebelum tekanan demografi berkembang semakin besar.
Namun, Indonesia memiliki persoalan lain yang tidak kalah penting. Besarnya jumlah pekerja informal membuat perluasan jaminan sosial menjadi tantangan tersendiri. Pada pekerja formal, pemberi kerja dapat membantu memastikan kepesertaan jaminan sosial. Sementara pekerja informal tidak selalu memiliki pihak yang bertanggung jawab mendaftarkan mereka.
Perbedaan tersebut membuat Indonesia tidak bisa sekadar meniru sistem Jepang. Indonesia perlu mengambil pelajaran sekaligus menyesuaikannya dengan struktur pasar kerja domestik.
Pekerja Informal Menjadi Tantangan Indonesia
Nelayan menjadi salah satu contoh kelompok pekerja informal yang menghadapi risiko tinggi. Ketika kecelakaan kerja menyebabkan seorang nelayan meninggal, keluarga dapat kehilangan sumber pendapatan utama.
Persoalannya menjadi lebih berat ketika pekerja tersebut tidak memiliki perlindungan jaminan sosial. Istri dan anak kemudian menghadapi risiko ekonomi setelah kehilangan pencari nafkah.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa jaminan sosial tidak hanya berkaitan dengan individu. Perlindungan juga menentukan kemampuan keluarga bertahan ketika menghadapi risiko.
Karena itu, Indonesia membutuhkan pendekatan yang dapat menjangkau pekerja informal. Edukasi tetap penting, tetapi sistem juga harus membuat kepesertaan lebih mudah dan terjangkau.
Jepang Memberi Pelajaran tentang Persiapan Lebih Dini
Pengalaman Jepang memperlihatkan pentingnya mempersiapkan perubahan demografi sebelum tekanannya semakin besar. Negara perlu memperhitungkan perubahan jumlah penduduk, struktur keluarga, dan pola pekerjaan secara bersamaan.
Persiapan tersebut tidak hanya menjadi tugas pemerintah. Individu juga perlu memahami pentingnya keamanan ekonomi sejak usia produktif. Di sisi lain, negara tetap harus menyediakan sistem yang memungkinkan masyarakat memperoleh perlindungan. Sistem yang baik harus mampu menjangkau mereka yang memiliki kemampuan ekonomi berbeda.
Jepang memperlihatkan konsekuensi ketika masyarakat semakin menua dan keluarga semakin kecil. Indonesia dapat menggunakan pengalaman tersebut untuk memperkuat sistem perlindungannya sendiri.
Tidak Ada Satu Model untuk Semua Negara
Diskusi di Bandung juga mendapat perspektif dari seorang mahasiswa asal Malawi. Ia mengangkat persoalan penerapan sistem asuransi di negara berpendapatan rendah. Pertanyaan tersebut memperluas pembahasan tentang perbedaan kondisi antarnegara. Negara dengan pendapatan masyarakat rendah menghadapi tantangan berbeda dalam membangun sistem perlindungan sosial.
Jepang memiliki persoalan masyarakat menua. Indonesia menghadapi pekerja informal dalam jumlah besar, sedangkan negara berpendapatan rendah menghadapi keterbatasan daya bayar dan ruang fiskal. Karena itu, sistem jaminan sosial tidak dapat dipindahkan begitu saja dari satu negara ke negara lain. Setiap negara perlu menyesuaikan desain perlindungan dengan struktur masyarakat dan ekonominya.
Jepang Menunjukkan Masa Depan Jaminan Sosial
Pengalaman Jepang memberikan pesan bahwa jaminan sosial harus bergerak mengikuti perubahan masyarakat. Ketika keluarga berubah, sistem perlindungan juga harus menyesuaikan diri. Masyarakat yang menua membutuhkan sistem pensiun dan perlindungan hari tua yang berkelanjutan. Pada saat yang sama, individu membutuhkan kemampuan merencanakan keamanan ekonomi sejak usia produktif.
Indonesia dapat mengambil pelajaran dari perubahan tersebut. Perluasan jaminan sosial bagi pekerja informal harus berjalan bersamaan dengan persiapan menghadapi perubahan demografi. Dengan demikian, masa depan jaminan sosial bukan hanya persoalan membayar iuran. Sistem juga harus menjawab perubahan keluarga, pekerjaan, usia penduduk, serta kemampuan ekonomi masyarakat.













