NEWS.KOBA.CO.ID. Dua peserta binaan Koba Mirai Japan, Faiqotul Mauludiyah dan Selfi Agustina, berangkat ke Jepang pada Kamis, 29 Oktober 2026. Keduanya akan menjalani program magang kaigo atau perawatan lansia di Prefektur Kagawa. Keberangkatan dua siswa Koba tersebut menandakan peluang bekerja di Jepang sangat terbuka bagi tenaga muda Indonesia melalui program pemagangan sektor perawatan lansia.
Keberangkatan mereka menjadi langkah awal untuk menerapkan keterampilan yang telah dipersiapkan selama mengikuti proses pendidikan dan pelatihan. ” Bidang kaigo menawarkan pengalaman kerja yang menuntut keterampilan teknis, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap sesama. Karena itu, peserta perlu mempersiapkan kemampuan komunikasi, pemahaman budaya kerja, serta kesiapan menghadapi kehidupan di lingkungan baru,” ungkap Faiqotul. Sementara itu Selfi mengatakan kesempatan ini bukan sekadar perjalanan menuju negara lain tetapi sebuah proses pembelajaran profesional yang menuntut tanggung jawab dan kemampuan beradaptasi.
Magang Kaigo Jepang Membuka Peluang bagi Tenaga Muda Indonesia
Di Jepang sektor perawatan lansia menjadi salah satu bidang pekerjaan yang membutuhkan tenaga terampil di Jepang. Kondisi demografi negara tersebut membuat layanan pendampingan dan perawatan bagi penduduk lanjut usia memiliki peran penting. Pekerjaan kaigo mencakup pendampingan aktivitas sehari-hari, membantu mobilitas, serta mendukung kebutuhan dasar lansia. Dalam pelaksanaannya, pekerja perlu memahami prosedur perawatan dan menjaga komunikasi dengan penerima layanan.
Selain keterampilan praktis, pekerja juga membutuhkan kesabaran dan kepekaan. Mereka harus mampu memahami kebutuhan lansia dengan tetap menghormati martabat dan kemandirian setiap individu. Oleh karena itu, persiapan sebelum keberangkatan memegang peranan penting. Peserta perlu memahami tanggung jawab pekerjaan sekaligus membiasakan diri dengan aturan dan budaya kerja Jepang.
Magang Kaigo Jepang Menuntut Keterampilan dan Kepedulian
Program magang kaigo memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengenal lingkungan kerja internasional. Namun, keberhasilan tidak hanya bergantung pada kemampuan teknis. Penguasaan bahasa Jepang juga membantu pekerja memahami instruksi dan berkomunikasi dengan lansia maupun rekan kerja. Kemampuan tersebut dapat mengurangi risiko kesalahpahaman dalam menjalankan tugas.
Di sisi lain, pekerja perlu menjaga etika, kedisiplinan, dan profesionalisme. Ketiga aspek tersebut menjadi bekal penting untuk membangun kepercayaan di lingkungan kerja.
Koba Mirai Japan Dorong Kesiapan Peserta Sebelum Bekerja di Jepang
Sementara itu Bambang Rizkiawan, Staf Divisi Rekrutmen dan Marketing Koba Mirai Japan, menjadi salah satu pihak yang relevan untuk menjelaskan persiapan peserta. Program pemagangan membutuhkan koordinasi antara lembaga pelatihan, peserta, dan pihak penerima tenaga kerja.
Keberangkatan Faiqotul dan Selfi menunjukkan pentingnya jalur persiapan yang terarah bagi calon pekerja. Peserta perlu memahami jenis pekerjaan, lokasi penempatan, serta tanggung jawab yang akan mereka jalani. ” Dalam sektor perawatan lansia, kesiapan mental dan kemampuan berinteraksi memiliki nilai penting. Pekerja tidak hanya menjalankan prosedur, tetapi juga berhadapan langsung dengan kebutuhan manusia,” ungkap Bambang.
Karena itu, calon peserta perlu mempelajari bahasa Jepang dan budaya kerja sebelum memulai pekerjaan. Mereka juga perlu memahami pentingnya komunikasi, pelaporan, dan konsultasi ketika menghadapi kendala.
Magang Kaigo Jepang Menjadi Pengalaman Kerja Internasional
Bekerja di luar negeri memberikan kesempatan bagi peserta untuk mengenal standar profesional yang berbeda. Mereka dapat mempelajari sistem kerja, meningkatkan kemampuan komunikasi, dan membangun kemandirian. Meski demikian, peserta juga menghadapi tantangan adaptasi. Perbedaan bahasa, kebiasaan sosial, dan pola komunikasi menuntut kesiapan untuk terus belajar.
Dalam pekerjaan perawatan lansia, kemampuan memahami instruksi menjadi bagian penting dari keselamatan kerja. Peserta perlu bertanya ketika belum memahami prosedur dan segera melaporkan kendala kepada penanggung jawab. Sikap terbuka terhadap pembelajaran akan membantu mereka menjalani proses adaptasi. Dengan demikian, pengalaman magang dapat memberikan manfaat bagi perkembangan keterampilan dan profesionalisme.
Prefektur Kagawa Menjadi Lokasi Penempatan Dua Peserta
Faiqotul Mauludiyah dan Selfi Agustina akan menjalani program magang di Prefektur Kagawa. Wilayah ini berada di Pulau Shikoku, Jepang, dan menjadi lokasi baru bagi keduanya untuk memulai pengalaman profesional. Penempatan tersebut juga membawa tantangan untuk membangun kehidupan sehari-hari di lingkungan yang berbeda. Peserta perlu mengenali fasilitas umum, memahami aturan setempat, serta membangun komunikasi dengan orang-orang di sekitarnya.
Selain menjalankan pekerjaan, mereka perlu menjaga kesehatan dan mengatur waktu istirahat. Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi membantu peserta menghadapi tuntutan selama berada di luar negeri. Dukungan lingkungan kerja dan kemampuan beradaptasi juga berperan dalam proses tersebut. Dengan persiapan yang memadai, peserta memiliki peluang lebih baik untuk menjalani program secara bertanggung jawab.
Keberangkatan Dua Peserta Menjadi Awal Perjalanan Baru
Keberangkatan Faiqotul dan Selfi pada 29 Oktober 2026 menandai dimulainya pengalaman baru di sektor perawatan lansia Jepang. Keduanya membawa bekal pendidikan sekaligus tanggung jawab untuk menjalani pekerjaan dengan disiplin.
Pengalaman tersebut diharapkan dapat memperluas wawasan dan meningkatkan keterampilan profesional mereka. Namun, hasil akhirnya bergantung pada proses belajar, kepatuhan terhadap aturan, dan kemampuan beradaptasi selama program berlangsung.
Bagi calon pekerja Indonesia lainnya, jalur pemagangan dapat menjadi salah satu pilihan untuk mengenal dunia kerja internasional. Mereka tetap perlu memeriksa persyaratan, memahami kontrak, dan memastikan seluruh proses mengikuti ketentuan resmi.
Pada akhirnya, keberhasilan bekerja di Jepang tidak hanya ditentukan oleh keberangkatan. Persiapan yang matang, sikap profesional, dan kemauan untuk terus belajar menjadi bekal penting untuk menjalani perjalanan tersebut.













