Onbashira, Festival Ekstrem Jepang saat Warga Menunggangi Batang Pohon Raksasa

Onbashira
Festival Onbashira Jepang menghadirkan ritual batang pohon raksasa di Nagano. Kenali sejarah, Kiotoshi, Yamadashi, dan makna budayanya. ( foto dok,db.go-nagano.net)

NEWS.KOBA.ID. Bayangkan meluncur menuruni lereng curam dengan menunggangi batang pohon raksasa yang beratnya mencapai belasan ton. Di sekelilingnya, orang-orang bersorak, sementara para peserta berusaha menjaga keseimbangan di atas kayu yang bergerak cepat. Pemandangan menegangkan ini bukan adegan film aksi, melainkan bagian dari tradisi kuno Jepang bernama Festival Onbashira.

Festival Onbashira atau Onbashira Matsuri berlangsung di kawasan Suwa, Prefektur Nagano, Jepang. Tradisi ini menarik perhatian karena melibatkan batang pohon besar yang dibawa dari pegunungan menuju kompleks Kuil Suwa Taisha. Salah satu bagian paling terkenal adalah Kiotoshi, ketika peserta menaiki batang pohon saat kayu meluncur menuruni lereng.

Namun, Festival Onbashira bukan sekadar pertunjukan keberanian. Di balik aksi yang berisiko, tradisi ini memiliki makna spiritual, sejarah panjang, dan nilai kebersamaan yang kuat bagi masyarakat setempat.

Apa Itu Festival Onbashira di Jepang?

Festival Onbashira merupakan tradisi untuk mengganti pilar kayu suci di kompleks Suwa Taisha, salah satu kompleks kuil Shinto penting di Prefektur Nagano. Nama Onbashira merujuk pada pilar kayu besar yang didirikan di sekitar bangunan kuil.

Masyarakat menyelenggarakan festival ini setiap enam tahun, mengikuti siklus tahun Monyet dan Harimau dalam penanggalan tradisional Jepang. Rangkaian kegiatan mencakup pemilihan dan penebangan pohon, pengangkutan batang kayu, serta pendirian pilar di lokasi yang telah ditentukan.

Penyelenggaraan festival membutuhkan keterlibatan banyak warga. Mereka bekerja bersama untuk menggerakkan batang pohon besar melalui jalur pegunungan dan permukiman hingga mencapai kompleks kuil.

Tradisi tersebut memperlihatkan hubungan erat antara kepercayaan, lingkungan alam, dan identitas masyarakat Suwa. Bagi warga setempat, Onbashira bukan hanya perayaan, tetapi juga warisan yang perlu diteruskan kepada generasi berikutnya.

Yamadashi, Tahap Membawa Pohon dari Pegunungan

Rangkaian utama Festival Onbashira terbagi menjadi dua tahap, yakni Yamadashi dan Satobiki. Keduanya membutuhkan tenaga, keterampilan, serta koordinasi banyak peserta.

Tahap pertama, Yamadashi, merupakan proses membawa batang pohon dari kawasan pegunungan menuju wilayah permukiman. Peserta mengandalkan tenaga manusia, tali, dan teknik tradisional untuk menggerakkan kayu berukuran besar.

Batang pohon yang digunakan dapat memiliki panjang lebih dari 17 meter dan berat sekitar 12 ton. Ukuran tersebut membuat proses pemindahan menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika peserta melewati jalur yang menurun atau berbelok.

Bagian yang paling dikenal dalam tahap ini adalah Kiotoshi. Pada momen tersebut, sejumlah peserta menaiki batang pohon ketika kayu meluncur menuruni lereng curam.

Aksi itu membuat Onbashira terkenal sebagai salah satu festival tradisional Jepang yang menegangkan. Meski demikian, Kiotoshi juga memiliki risiko kecelakaan serius sehingga tidak tepat dipandang semata-mata sebagai atraksi wisata.

Satobiki, Mengarak dan Mendirikan Pilar Suci

Setelah tahap Yamadashi, rangkaian festival berlanjut dengan Satobiki. Pada tahap ini, warga menarik batang pohon melalui permukiman menuju kompleks Suwa Taisha.

Peserta bekerja bersama untuk mengendalikan pergerakan kayu hingga mencapai lokasi tujuan. Mereka kemudian mendirikan pilar di titik-titik yang telah ditentukan di sekitar kompleks kuil.

Suwa Taisha memiliki empat kuil utama yang tersebar di kawasan Danau Suwa. Setiap kuil menerima empat pilar, sehingga rangkaian utama festival menggunakan total 16 batang pohon.

Pendirian pilar menjadi salah satu momen penting dalam festival. Proses tersebut menandai penyelesaian rangkaian pekerjaan sekaligus memperlihatkan keterlibatan masyarakat dalam menjaga tradisi.

Melalui Satobiki, warga tidak hanya menjalankan ritual, tetapi juga meneruskan keterampilan dan pengetahuan tradisional. Pengalaman itu membantu generasi muda memahami tanggung jawab mereka dalam melestarikan warisan budaya.

Sejarah Onbashira dan Maknanya bagi Masyarakat Suwa

Tradisi Onbashira diperkirakan telah berlangsung selama lebih dari 1.200 tahun. Namun, asal-usul awalnya belum diketahui secara pasti. Sejarah festival berkembang melalui catatan dan praktik ritual yang diwariskan selama berabad-abad.

Bagi masyarakat Suwa, Onbashira berkaitan erat dengan tradisi Shinto dan penghormatan terhadap tempat suci. Penggantian pilar kayu menjadi bagian penting dalam rangkaian ritual di Suwa Taisha.

Festival ini juga memperlihatkan hubungan masyarakat dengan alam. Warga memilih pohon dari kawasan pegunungan, kemudian memindahkannya melalui kerja kolektif menuju kuil.

Selain nilai spiritual, Onbashira memperkuat identitas lokal. Persiapan festival melibatkan banyak warga dan membutuhkan kerja sama lintas generasi.

Situs resmi festival menggunakan ungkapan kokoro-hitotsu, yang berarti “satu hati”. Ungkapan ini menggambarkan semangat kebersamaan yang menjadi bagian penting dalam pelaksanaan Onbashira.

Risiko di Balik Festival Onbashira

Popularitas Onbashira tidak lepas dari adegan peserta menunggangi batang pohon yang meluncur di lereng. Namun, bagian tersebut juga menghadirkan bahaya nyata.

Batang pohon yang besar dan berat dapat bergerak sulit memprediksinya ketika melewati medan curam. Peserta yang berada di atasnya menghadapi risiko terjatuh atau mengalami cedera serius.

Karena itu, Onbashira tidak cukup memahaminya sebagai festival keberanian. Pelaksanaannya juga membutuhkan koordinasi, pengetahuan teknis, dan kesiapan masyarakat untuk menjalankan setiap tahapan.

Risiko tersebut turut mengingatkan pentingnya keselamatan dalam pelestarian tradisi. Penghormatan terhadap budaya dapat berjalan bersama dengan upaya mengurangi bahaya bagi peserta dan penonton.

Bagi pengunjung, memahami aturan penyelenggara menjadi hal penting sebelum menyaksikan festival secara langsung. Wisatawan sebaiknya mengikuti arahan petugas dan tidak memasuki area ritual tanpa izin.

Kapan Festival Onbashira Berikutnya Berlangsung?

Festival utama Onbashira berlangsung pada 2022 dan akan kembali pada 2028. Informasi dari penyelenggara menyebut rangkaian berikutnya akan mulai pada April 2028.

Wisatawan yang ingin menyaksikan festival dapat memantau pengumuman resmi mengenai jadwal, lokasi, akses, dan ketentuan keselamatan. Jadwal rinci setiap tahapan perlu memeriksa kembali mendekati waktu pelaksanaan.

Onbashira menawarkan gambaran berbeda tentang kebudayaan Jepang. Di tengah kehidupan modern, masyarakat Suwa tetap menjaga tradisi yang menghubungkan manusia, alam, kepercayaan, dan solidaritas.

Daya tarik festival ini memang terlihat dari batang pohon raksasa dan aksi menegangkan di lereng. Namun, makna yang lebih dalam terletak pada semangat kolektif masyarakat yang terus merawat warisan budaya lintas generasi. ( Dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *