Akar Animasi dan Manga Jepang dalam Jejak Choju Giga

choju giga
Salah satu artefak lukisan choju giga

Choju Giga adalah gulungan gambar kuno yang menampilkan hewan dan manusia dalam gaya jenaka. Teknik visualnya mirip teknik manga modern. Gulungan ini disebut sebagai akar perkembangan manga dan animasi Jepang.

NEWS.KOBA.CO.ID. Animasi dan manga Jepang kini menjadi budaya populer global. Banyak orang menikmati gaya visual dan cerita khas Jepang. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa akar visual manga dan animasi modern telah muncul lebih dari delapan abad lalu. Jejak awal itu terlihat dalam gulungan gambar kuno berjudul Choju Giga, sebuah karya seni yang yang menjadi cikal bakal gaya ilustrasi modern di Jepang.

Menelusuri isi gulungan “Gulungan Gambar Choju Jinbutsu”, atau masyhur sebagai Gulungan Gambar Hewan adalah menelusuri karya seni kuno yang unik. Karya ini sangat populer di Jepang karena menampilkan ilustrasi hewan yang bergerak dan berperilaku seperti manusia. Gaya inilah yang membuat Choju Giga sebagai salah satu fondasi awal manga dan animasi.

Gulungan Tinta

Choju Giga merupakan rangkaian empat gulungan tinta yang terimpan dalam Kuil Kosanji, Kyoto. Keempat gulungan ini terkenal sebagai jilid A, B, C, dan D. Setiap jilid menggambarkan hewan dengan gestur manusia. Humor menjadi unsur visual yang mendominasi karya ini. Para ahli meyakini gulungan tersebut sudah ada pada akhir periode Heian hingga awal periode Kamakura. Jilid C menjadi yang terpendek dengan panjang sekitar 9,33 meter. Jilid B menjadi yang terpanjang dengan panjang hampir 12 meter.

Volume pertama menampilkan berbagai hewan antropomorfis yang sedang bermain. Adegan pembuka memperlihatkan seekor kelinci yang melompat ke sungai sambil menutup hidung seperti manusia. Adegan terkenal lainnya adalah pertarungan antara kelinci dan katak. Gerakan hewan dalam jilid ini bentuk gambarnya dengan gaya yang jenaka dan hidup.

Gulungan B menggambarkan hewan nyata dan hewan fantasi. Gaya pada jilid ini terlihat lebih realistis dari jilid sebelumnya. Gulungan ini menghadirkan hewan yang ada pada masyarakat Jepang saat era Heian, seperti sapi, ayam, dan kuda. Di dalamnya juga muncul hewan asing seperti gajah, harimau, baku, hingga kirin. Makhluk legendaris seperti naga juga menjadi bagian dari ilustrasi pada gulungan ini.

Volume C menampilkan dua bagian berbeda. Bagian pertama menggambarkan aktivitas manusia pada masa itu. Terdapat adegan biksu bermain Go, anak-anak bermain Sugoroku, dan acara istana bernama Noriyumi. Semua adegan itu terlihat dengan detail. Bagian kedua kembali menghadirkan ilustrasi hewan antropomorfis. Anjing, kelinci, dan monyet yang sedang berjalan dengan dua kaki sambil membawa barang.

Penuh Misteri

Volume D berfokus pada tokoh manusia. Jilid ini menghadirkan banyak karakter, dari bangsawan hingga rakyat biasa. Adegan kompetitif menjadi tema utama dalam jilid tersebut. Salah satu adegan terkenal menampilkan seorang pertapa gunung. Ia bersaing dengan seorang biksu ahli Buddhisme untuk melihat siapa yang mencapai hasil pelatihan terbaik. Humor tetap muncul pada berbagai adegan sehingga membuat narasi visual tetap ringan.

Choju Giga sering adalah karya penuh misteri. Gulungan ini tidak memiliki teks penjelas sehingga asal-usulnya sulit untuk mengetahuinya. Perdebatan mengenai siapa pelukisnya masih berlangsung hingga kini. Teori paling populer menyebutkan bahwa lukisan adalah karya Toba Sojo Kakuyu, seorang seniman yang masyhur mahir membuat karikatur humor. Namun, sebagian ahli berpendapat bahwa beberapa pelukis istana mungkin ikut mengerjakan karya ini. Perbedaan gaya di tiap bagian menambah kuat dugaan tersebut.

Banyak yang menganngao Choju Giga akar manga dan animasi karena menggunakan teknik visual yang mirip dengan teknik modern. Salah satu teknik pentingnya adalah metode komposisi Ijidozu. Teknik ini menggambar karakter yang sama pada beberapa momen berbeda dalam satu ruang. Teknik ini menciptakan kesan gerak dan urutan waktu. Manga modern juga menggunakan prinsip yang sama.

Karya ini juga memakai garis efek untuk menampilkan gerakan. Garis itu terlihat pada ilustrasi naginata yang berputar. Teknik tersebut menjadi ciri umum dalam manga dan animasi. Selain itu, simbol suara pada katak menggunakan garis yang menyerupai efek suara dalam manga modern.

Gaya satir dan humor dalam Choju Giga memperkuat posisinya sebagai nenek moyang manga. Hewan dan manusia tergambar dengan ekspresi hidup yang menggambarkan kehidupan masyarakat masa lalu. Teknik visual itu bertahan dan berkembang selama 800 tahun hingga membentuk gaya manga yang terkenal di dunia.

Dengan semua unsur tersebut, Choju Giga tidak hanya menjadi karya seni bersejarah. Karya ini juga menjadi fondasi teknik ilustrasi yang terus hidup dalam budaya visual Jepang hingga kini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *