Senja Matsuri, Perayaan Tiga Kuil yang Menyulut Antusiasme Warga Tokyo

matsuri
Sanja matsuri merupakan salah satu festival di Jepang yang banyak pengunjungnya ( foto wikipedia)

Acara ini menjadi magnet jutaan pengunjung setiap tahun. Selama tiga hari, kawasan Asakusa berubah menjadi pusat keramaian, penuh energi, dan warna-warni budaya Jepang.  Kuil Asakusa Shrine, tempat berbagai ritual tradisional menjadi pusat acara.

NEWS.KOBA. CO.ID. Setiap pertengahan Mei, sekitar minggu ketiga, lebih dari dua juta orang memenuhi jalanan untuk menyaksikan salah satu perayaan paling ikonik di ibu kota Jepang. Sanja Matsuri merupakan salah satu festival terbesar di Tokyo. Acara ini menjadi magnet jutaan pengunjung setiap tahun. Selama tiga hari, kawasan Asakusa berubah menjadi pusat keramaian, penuh energi, dan warna-warni budaya Jepang.  Kuil Asakusa Shrine, tempat berbagai ritual tradisional menjadi pusat acara.

Dari ketiga hari penyelenggaraan, Sabtu menjadi waktu terbaik untuk berkunjung. Pada hari ini, para warga lokal mengarak hampir seratus mikoshi dari halaman Senso-ji menuju gerbang legendaris Kaminarimon. Momen keluarnya mikoshi pertama pada tengah hari menjadi pemandangan yang paling menarik. Pengunjung dapat berdiri pada tepi jalur parade, menyaksikan para pembawa mikoshi dari jarak sangat dekat. Setiap kali petugas keamanan membuka jalur bagi orang-orang untuk menyeberang, suasana berubah sangat riuh, seolah-olah sebuah gelombang massa bergerak serentak menuju jalur parade.

Energi Mikoshi dan Atmosfer Festival yang Tak Tertandingi

Terlepas dari padatnya pengunjung, pengalaman menyaksikan mengangkat mikoshi tinggi-tinggi oleh para pembawanya menjadi momen yang sulit tak terlupakan. Para pengusung mikoshi menyanyikan yel-yel penuh semangat sambil mengangkat kuil mini yang beratnya bisa mencapai satu ton. Meski bobotnya luar biasa, para pembawa terlihat mampu menjaga ritme dan kekompakan, menghadirkan suasana meriah yang membuat pengunjung ikut terbawa suasana.

Rombongan mikoshi biasanya meninggalkan halaman Kuil Asakusa dalam durasi beberapa jam. Bagi pengunjung yang ingin menikmati prosesi tanpa terlalu berdesakan, waktu yang lebih santai justru datang setelah arus utama massa bergerak. Di area belakang Senso-ji, seluruh tim peserta parade berkumpul untuk melakukan persiapan. Aktivitas ini juga menarik untuk disaksikan—dari pengaturan posisi, seruan pemanasan, hingga ritual kecil sebelum mereka memasuki barisan.

Selain prosesi utama, halaman kuil penuh deretan penjaja makanan yang menghadirkan jajanan khas festival Jepang. Pengunjung bisa menikmati jajanan seperti takoyaki, okonomiyaki, karaage, hingga es serut warna-warni. . Karena perayaan berlangsung hingga malam hari, suasana Senso-ji dan sekitarnya berubah menjadi meriah.

Tiga Hari yang Tak Pernah Sepi: Tradisi, Sejarah, dan Daya Tarik Modern

Sanja Matsuri bukan hanya sekadar festival, tetapi perayaan budaya yang menggabungkan tradisi lama dengan energi masyarakat modern Tokyo. Pada hari Jumat menjadi ajang permulaan festival dengan parade malam yang melintasi jalan-jalan utama Asakusa. Kemudian pada hari Minggu, tiga mikoshi utama milik Asakusa Shrine dan mengaraknya dalam prosesi besar yang menjadi puncak acara. Warga lokal berlomba-lomba menunjukkan kekuatan dan kekompakan tim mereka untuk membawa mikoshi..

Sejarah panjang festival ini bermula pada tahun 1312. Dahulu, Sanja Matsuri terbagi dalam tiga perayaan terpisah: Kannonsai, Funamatsuri, dan Jigenkai. Namun sejak 1872, ketiga perayaan tersebut bergabung menjadi satu festival besar. Pada era Edo, festival ini masyhur dengan Kannonsai dan menjadi perayaan bersama antara ajaran Shinto dan Buddha. Setelah pemisahan ajaran tersebut pada periode Meiji, Sanja Matsuri menjadi perayaan resmi milik Kuil Asakusa.

Kini, Sanja Matsuri ini tidak hanya terkenal sebagai salah satu perayaan terbesar di Tokyo, tetapi juga sebagai salah satu yang paling ekspresif. Dalam beberapa kesempatan, anggota komunitas tertentu seperti kelompok yakuza ikut serta membawa mikoshi dan menampilkan tato tradisional mereka, meski praktik ini semakin berkurang seiring regulasi baru.

Sanja Matsuri terus menjadi alasan mengapa Asakusa selalu penuh dengan wisatawan pada bulan Mei. Perpaduan antara energi masyarakat lokal, sejarah panjang, serta suasana yang meriah membuat festival ini menjadi salah satu perayaan budaya paling layak Anda kunjungi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *