NEWS.KOBA.CO.ID. Pemerintah melalui Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) memperkuat langkah strategis dengan membuka lowongan magang ke luar negeri. Salah satunya adalah magang ke Jepang. Dengan menggandeng delapan perguruan tinggi, KP2MI melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS). Selain itu juga bersama sejumlah mitra strategis, termasuk Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), Yayasan MATAULI.
“Sekarang kami memiliki peran ganda, tidak lagi hanya sebagai operator atau pelaksana, tetapi juga sebagai regulator yang merumuskan kebijakan. Pengelolaan dilakukan secara komprehensif dari hulu ke hilir, mulai dari persiapan calon pekerja hingga pemberdayaan purna-pekerja,” ujar Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, Mukhtarudin (16/4)
Kerjasama tersebut menjadi tonggak penting dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia agar mampu bersaing di pasar kerja global. Pemerintah tidak hanya membuka peluang kerja, tetapi juga memastikan tenaga kerja Indonesia memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri internasional. Menteri menambahkan status dari BP2MI menjadi kementerian menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mengelola migrasi tenaga kerja secara menyeluruh.
Fokus pada Tenaga Kerja Terampil sebagai Kunci Perlindungan
KP2MI mengarahkan kebijakan pada penguatan kompetensi tenaga kerja sebagai strategi utama perlindungan pekerja migran. Pemerintah mendorong pengiriman tenaga kerja terampil untuk meminimalisir risiko yang sering muncul di negara tujuan. “Strategi utama dalam melindungi Pekerja Migran Indonesia adalah melalui penguatan kompetensi yang berperan sebagai perisai bagi mereka di luar negeri,” imbuh Mukhtarudin.
Pemerintah kini mengalihkan fokus dari tenaga kerja tidak terampil menuju tenaga kerja dengan keterampilan menengah hingga tinggi. Langkah ini sejalan dengan target nasional untuk menempatkan 500.000 pekerja migran ahli sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
Selain meningkatkan perlindungan, kebijakan ini juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Pada 2025, remitansi pekerja migran meningkat hingga 14 persen dan berkontribusi langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Peluang Global Terbuka Lebar, SDM Harus Siap
Data terbaru menunjukkan bahwa peluang kerja di luar negeri masih sangat besar. Hingga 15 April 2026, terdapat 327.658 lowongan kerja global, tetapi baru sekitar 21,12 persen yang terisi. “Masih terdapat 258.471 peluang kerja atau sekitar 78,88% yang terbuka lebar. Ini adalah tanggung jawab kita bersama untuk menyiapkan SDM yang kompeten agar peluang ini tidak terbuang sia-sia dan diisi melalui jalur yang legal serta aman,” ujarnya. Dalam kesempatan tersebut Rektor Institut Bisnis dan Informatika (IBI) Kosgoro 1957, Haswan Yunaz, menjelaskan bahwa kampusnya telah menyiapkan skema kuliah sambil bekerja di luar negeri.
“Kami menyiapkan kurikulum dan kompetensi yang dibutuhkan sebelum, sesaat, dan sesudah bekerja. Jadi, mereka tetap bisa meraih gelar sarjana sekaligus bekerja di mancanegara, baik di bidang entrepreneur, digital marketing, maupun bidang lainnya,” jelas Haswan.
Sedangkan Rektor Universitas Dr. Soetomo, Prof. Siti Marwiyah, menegaskan bahwa pihaknya langsung menindaklanjuti kerja sama ini dengan aksi nyata. Ia menolak menjadikan kesepakatan tersebut sebagai formalitas semata. “Kami ingin lulusan kami siap ilmunya, punya gelar sarjana, tapi juga punya sertifikat keahlian yang siap bersaing. Ini energi baru bagi kami di tengah tantangan PHK yang marak. Bahkan, Senin depan kami langsung menindaklanjuti dengan perusahaan mitra untuk seleksi penempatan ke Taiwan dan Jepang,” ujar Prof. Siti. Selain itu kampusnya juga segera membentuk Migrant Center sebagai pusat informasi dan layanan bagi mahasiswa yang ingin bekerja di luar negeri.
Pengalaman Magang dan Dukungan Daerah
Rektor Universitas Sunan Gresik, Abdul Muhith, mengungkapkan bahwa pihaknya telah lebih dulu menjalankan program magang ke Jepang. Mahasiswa semester lima dan tujuh telah berangkat untuk mengikuti program tersebut selama satu tahun dengan penghasilan yang kompetitif. “Informasi dari Pak Menteri semakin menguatkan kami untuk berkecimpung di dunia ini. Kami akan memperluas jangkauan pendidikan dan pembinaan agar memberikan kontribusi positif bagi tenaga kerja, khususnya di daerah Jambi,” tuturnya.
Dukungan juga datang dari Universitas Palangka Raya. Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan, Darmae, menilai langkah pemerintah sebagai bentuk nyata kehadiran negara dalam melindungi warganya. “Negara benar-benar hadir dan peduli pada warganya, baik sebelum, saat, maupun setelah bekerja di luar negeri. Kami ingin bonus demografi Indonesia berbuah manis melalui tenaga kerja yang skillful. Ini adalah strategi penting untuk memperbaiki keadaan sosial dan ekonomi kita di masa depan,” tegas Darmae.













