NEWS.KOBA.CO.ID. Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) memperkuat pelatihan calon pekerja migran Indonesia (CPMI) melalui kolaborasi lintas kementerian. Langkah ini bertujuan menyiapkan tenaga kerja dengan keterampilan yang sesuai kebutuhan pemberi kerja di luar negeri.
Menteri P2MI Mukhtarudin menegaskan bahwa pemerintah perlu mengidentifikasi permintaan tenaga kerja sebelum menentukan materi pelatihan. Dengan pendekatan tersebut, calon pekerja dapat mempelajari kompetensi yang relevan dengan pekerjaan yang tersedia.
“Jadi, metodologi yang kita pakai adalah mulai dari ada demand dulu, kemudian kompetensi yang mereke butuhkan seperti apa, baru kita latih seperti apa,” kata Mukhtarudin.
Ia menyampaikan hal tersebut setelah penandatanganan pembaruan nota kesepahaman (MoU) kerja sama pelatihan antara KP2MI dan Kementerian Perindustrian di Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Mukhtarudin menilai peluang kerja internasional cukup besar, tetapi ketersediaan tenaga kerja dengan kualifikasi yang tepat masih perlu ada penguatan. Karena itu, pemerintah mendorong peningkatan keterampilan atau upskilling agar calon pekerja memenuhi persyaratan negara tujuan.
Menyesuaikan dengan Kebutuhan
KP2MI membagi dukungan pelatihan berdasarkan bidang pekerjaan dan keahlian kementerian terkait. Untuk sektor perhotelan, pemerintah akan berkolaborasi dengan Kementerian Pariwisata, sedangkan sektor keperawatan dan kesehatan melibatkan Kementerian Kesehatan.
Kementerian Perindustrian akan mendukung pelatihan manufaktur, teknologi informasi, barista, dan bidang terkait. Sementara itu, sektor kelautan, perikanan, dan transportasi melibatkan kementerian sesuai kewenangannya.
Kolaborasi tersebut juga mencakup lembaga pendidikan dan pelatihan, seperti balai pelatihan industri, politeknik, akademi komunitas, serta sekolah menengah kejuruan (SMK). Keterlibatan lembaga-lembaga ini diharapkan memperkuat hubungan antara pembelajaran dan kebutuhan dunia kerja.
SMK Go Global Libatkan 12 Kementerian dan Lembaga
Penyesuaian pelatihan CPMI menjadi bagian dari program SMK Go Global, yang Mukhtarudin sebut sebagai program prioritas nasional sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
Program tersebut bertujuan memperkuat kesiapan sumber daya manusia Indonesia untuk memasuki pasar kerja internasional. Mukhtarudin mengatakan KP2MI telah menjalin nota kesepahaman dengan 12 kementerian dan lembaga, termasuk Kementerian Perindustrian.
Melalui pembaruan kerja sama, pemerintah memperluas cakupan pelatihan yang sebelumnya berfokus pada sektor manufaktur. Program ini kini menjangkau lebih banyak bidang pekerjaan dengan dukungan fasilitas pendidikan dan pelatihan lintas sektor.
Pembiayaan Penempatan
Selain pelatihan, program SMK Go Global mencakup dukungan pembiayaan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Mukhtarudin juga menyebut skema kredit usaha rakyat (KUR) yang difasilitasi pemerintah untuk mendukung pembiayaan penempatan.
Dukungan tersebut diharapkan memperluas akses masyarakat terhadap kesempatan kerja di luar negeri. Calon pekerja tetap perlu memahami persyaratan pembiayaan dan kewajiban yang menyertainya sebelum mengambil keputusan.
Mukhtarudin berharap program ini dapat memperluas kesempatan kerja, mengurangi pengangguran dan kemiskinan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya penempatan pekerja migran yang aman dan sesuai kompetensi.
Indonesia Bidik Peluang dari Kebutuhan Tenaga Kerja Global
Mukhtarudin menilai Indonesia berpeluang memperbesar penempatan pekerja migran pada sektor formal dan profesional. Salah satu peluang muncul dari negara-negara yang menghadapi penuaan populasi dan membutuhkan tambahan tenaga kerja.
Di sisi lain, Indonesia memiliki bonus demografi yang dapat mendukung penyediaan tenaga kerja produktif. Pemerintah perlu mengelola potensi tersebut melalui pendidikan, pelatihan, dan penempatan yang terencana.
Mukhtarudin mengatakan komunikasi pemerintah dengan sejumlah negara menunjukkan adanya permintaan tenaga kerja dari Indonesia. Pemerintah diminta menyiapkan pekerja sesuai kebutuhan masing-masing negara.
Peluang tersebut membutuhkan dukungan pelatihan berkualitas, informasi kerja yang jelas, dan perlindungan selama proses penempatan. Dengan demikian, program SMK Go Global diharapkan dapat membantu masyarakat mengakses pekerjaan internasional sekaligus meningkatkan kualitas tenaga kerja Indonesia.













