Minat perusahaan Jepang terhadap kakao Indonesia muncul setelah menilai potensi kakao asal Sulawesi. Sebelumnya, mereka selalu menggunakan kakao impor. Usulan pemanfaatan kakao Indonesia melalui kerja sama dengan mitra lokal kemudian berkembang menjadi proyek strategis.
Produsen permen asal Jepang, Chateraise, resmi meluncurkan cokelat berbahan biji kakao Indonesia. Perusahaan yang berbasis di Kofu, Prefektur Yamanashi ini memulai produksi setelah terlibat langsung sejak tahap penanaman hingga proses komersialisasi. Langkah tersebut menjadi pengalaman pertama Chateraise dalam mengelola rantai produksi kakao lintas negara dengan prinsip perdagangan adil.
Chateraise selama ini terkenal dengan moto “lezat dan terjangkau.” Selama lebih dari tiga dekade, perusahaan tersebut menjalankan “konsep pabrik pertanian.” Mereka membeli bahan baku seperti telur, susu, buah, dan air langsung dari petani kontrak, lalu memproduksi permen di pabrik terdekat. Sistem itu memungkinkan Chateraise menjaga kualitas dan menekan harga karena produksi berlangsung masif dengan bahan lokal.
Minat perusahaan terhadap kakao Indonesia muncul setelah menilai potensi kakao asal Sulawesi. Sebelumnya, mereka selalu menggunakan kakao impor. Usulan pemanfaatan kakao Indonesia melalui kerja sama dengan mitra lokal kemudian berkembang menjadi proyek strategis.
Tahun 2023, Chateraise menerima persetujuan untuk “proyek demonstrasi bisnis untuk budidaya kakao dan penanggulangan perubahan iklim” dari JICA. Dukungan sekitar 20 juta yen memperkuat pelaksanaan produksi kakao lokal. Proses panen, fermentasi, dan pengeringan mendapatkan pendampingan langsung dari staf Chateraise Jepang dan produsen setempat.
Indonesia merupakan produsen kakao terbesar ketiga di dunia. Namun, kualitas biji kakao bervariasi karena proses fermentasi sering belum optimal. Banyak hasil panen akhirnya hanya menjadi bubuk kakao. Harga kakao Indonesia cenderung lebih rendah daripada kakao premium Afrika. Kondisi ini membuat banyak petani terjebak dalam lingkaran pendapatan rendah. Padahal, iklim dan tanah Sulawesi sangat cocok untuk budidaya kakao.
Perdagangan Adil
Provinsi Gorontalo di Sulawesi Utara menjadi lokasi produksi utama. Pemilihan wilayah tersebut tidak lepas dari figur Rachmat Gobel, pemilik Gobel International. Perusahaannya telah bekerja sama dengan Chateraise sejak 2017. Gobel juga sangat dekat dengan Jepang dan memimpin kelompok persahabatan parlemen Jepang-Indonesia. Pada 13 April 2026, ia menghadiri peletakan batu pertama pabrik kedua Chateraise di Bekasi. Petani dari Sulawesi turut hadir dalam acara tersebut.
Di awal 2024, Shin Tsushima, manajer bagian pembelian bahan baku Chateraise, berkunjung ke Indonesia. Ia mengawasi pemilihan lahan, fermentasi, dan pengeringan. Selain itu memastikan petani menerapkan standar kebersihan agar biji memiliki kualitas lebih tinggi. Proses panen yang terjadi dua kali setahun juga mereka awasi secara ketat.
Kesadaran petani terhadap mutu produk semakin meningkat. Chateraise membeli biji kakao dengan harga lebih baik. Langkah tersebut menciptakan sistem perdagangan adil dan mencegah deforestasi tidak perlu. Perusahaan juga ingin meningkatkan motivasi petani untuk mempertahankan tanaman kakao.
Dua Bentuk
Pada paruh pertama 2025, sekitar 300 kilogram kakao diekspor ke Jepang. Kemudian mengolahnya menjadi dua produk: cokelat batang 70% kakao “Snap the Cacao” seharga 900 yen, dan “Madeleine Chocolat” seharga 180 yen. Hirotoshi Saito, pengembang produk Chateraise, menilai bahwa “Cokelat ini memiliki karakter yang kuat, namun dengan aroma buah yang glamor yang menyebar di dalamnya.”
Produk itu meluncur ke ajaringan toko premium Yatsudoki sejak Maret 2026. Chateraise memprediksi panen sekitar 3 ton pada paruh kedua 2025 dan menargetkan produksi hingga 100 ton per tahun. Tsushima menyampaikan rencana jangka panjang. Konsep pabrik pertanian yang mereka bangun di Jepang kini berkembang ke luar negeri. Pendekatan ini memperkuat rantai nilai dari lahan petani hingga konsumen.













