Berita  

Dari Fikih Halal hingga Anemia, Muslimat NU Jepang Bekali Pekerja Migran Agar Tetap Sehat dan Tenang di Negeri Sakura

Muslimat NU
Muslimat NU Jepang bersama akademisi UGM membekali pekerja migran dengan edukasi fikih halal, kesehatan mental, dan pencegahan anemia. (Foto dok.nu.or.id)

NEWS.KOBA.CO.ID. Kehidupan sebagai pekerja migran di Jepang tidak hanya menuntut kemampuan bekerja yang baik. Para pekerja juga perlu memiliki bekal spiritual, pemahaman keagamaan, serta pengetahuan kesehatan yang memadai. Kesadaran itulah yang mendorong Pengurus Cabang Istimewa (PCI) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Jepang menggandeng akademisi dan pakar gizi dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM).

Kolaborasi tersebut behasil terwujud melalui Pertemuan Syahriah Muslimat ke-39 bertema Hidup Sehat, Berkah, dan Bahagia di Negeri Sakura. Kegiatan berlangsung di Masjid NU At-Taqwa, Koga, Prefektur Ibaraki, Jepang, pada Ahad (14/6/2026). Acara juga dapat diikuti secara daring melalui Zoom sehingga menjangkau lebih banyak jamaah di berbagai wilayah Jepang.
Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bagi para Pekerja Migran Indonesia (PMI). Mereka memperoleh wawasan mengenai fikih halal, kesehatan mental, pola konsumsi makanan, hingga pencegahan anemia yang kerap mengintai pekerja dengan aktivitas padat.

Bekal Spiritual dan Kesehatan untuk Perantauan

Ketua PCI Muslimat NU Jepang, Ade Nur Syamsiyah, menegaskan bahwa pemahaman agama dan kesehatan fisik harus berjalan beriringan. Menurutnya, keduanya menjadi fondasi penting bagi warga Indonesia yang hidup di negara dengan jumlah Muslim yang relatif sedikit.

“Melalui sinergi bersama FK-KMK UGM ini, kami berharap jemaah dapat menyerap ilmu kesehatan dan fikih kontemporer untuk kemaslahatan hidup sehari-hari di Jepang,” tutur Ade Nur Syamsiyah. Ia menjelaskan bahwa pekerja migran menghadapi berbagai tantangan. Mereka harus beradaptasi dengan budaya baru, ritme kerja yang tinggi, serta keterbatasan akses terhadap layanan keagamaan. Karena itu, pemahaman yang tepat mengenai praktik keislaman sehari-hari sangat mereka butuhkan.

Pangan Halal dan Hubungannya dengan Kesehatan Mental

Pada sesi pertama, Fatma Zuhrotul Nisa membahas pentingnya mengonsumsi makanan halal dan thayyib. Ia menjelaskan bahwa prinsip tersebut tidak hanya berkaitan dengan ibadah, tetapi juga berdampak pada ketenangan batin seseorang. Fatma mengingatkan jamaah agar tidak hanya fokus menghindari makanan berbahan babi. Mereka juga perlu memperhatikan kemungkinan terjadinya kontaminasi silang atau cross-contamination pada alat masak.

Menurutnya, kondisi tersebut cukup sering ada pada restoran maupun tempat kerja di Jepang. Banyak orang menganggap makanan sudah aman, padahal peralatan yang mereka gunakan berpotensi bercampur dengan bahan yang tidak halal. “Sifat wara’ atau kehati-hatian memilih makanan itu sangat penting karena makanan haram dapat menghalangi terkabulnya doa,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa persoalan makanan sering kali berkaitan dengan kondisi psikologis pekerja migran. Saat menghadapi tekanan hidup di perantauan, seseorang membutuhkan ketenangan hati. Karena itu, menjaga kehalalan makanan menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan mental.

Frozen Food Jadi Pilihan Praktis, Tetapi Harus Bijak

Pembahasan berikutnya adalah Prof Lily Arsanti Lestari. Ia mengangkat tema mengenai konsumsi frozen food atau makanan beku yang sangat populer di kalangan pekerja migran. Kesibukan kerja membuat banyak PMI memilih makanan praktis. Frozen food menjadi solusi mudah dan cepat untuk menyajikannya. Namun, Prof Lily mengingatkan bahwa pemilihan produk serta cara pengolahannya harus mendapatkan perhatian.

Ia menjelaskan bahwa kandungan gizi makanan beku dapat tetap terjaga jika proses penyimpanan dan pemanasan kita melakukannya dengan dengan benar. Sebaliknya, kesalahan dalam pengolahan dapat mengurangi kualitas gizi pada tubuh.
Materi ini mendapat perhatian besar dari peserta. Banyak jamaah mengaku mengandalkan makanan beku sebagai menu harian karena keterbatasan waktu memasak.

Mengintai Pekerja Migran

Sementara itu, Prof Siti Helmyati menyoroti ancaman anemia yang masih sering dialami pekerja migran Indonesia di Jepang.
Menurutnya, kondisi tersebut muncul karena pola makan yang belum seimbang. Banyak pekerja masih mengonsumsi karbohidrat dalam jumlah tinggi. Namun, mereka kurang memenuhi kebutuhan protein, sayur, dan zat besi.


Situasi ini semakin berisiko bagi pekerja yang menjalani sistem kerja shift malam. Perubahan jam biologis tubuh sering memengaruhi pola makan dan kualitas istirahat. “Demi mengejar stamina saat bekerja malam, banyak yang mengkonsumsi kopi secara berlebihan. Padahal kafein dalam kopi menghambat penyerapan zat besi, sehingga tubuh menjadi cepat lemas, lesu, dan tidak produktif,” terang Prof Siti.


Ia mengajak peserta untuk lebih memperhatikan asupan gizi harian. Langkah sederhana seperti memperbanyak konsumsi protein dan sayuran dapat membantu menjaga kesehatan serta produktivitas kerja.

Syahriah Jadi Ruang Silaturahmi dan Penguatan Jamaah

Melansir laman nu.or.id., pertemuan Syahriah Muslimat ke-39 tidak hanya menghadirkan kajian ilmiah. Kegiatan juga menjadi sarana mempererat hubungan antarsesama warga Indonesia di Jepang. Acara diawali dengan shalat Dzuhur berjamaah dan makan bersama. Suasana hangat terasa ketika para peserta saling bertukar pengalaman hidup di perantauan.


Wakil Ketua PCI Muslimat NU Jepang sekaligus Koordinator Syahriah, Bonita Hyang Paramita, menyampaikan sambutan sebelum sesi utama dimulai. Kegiatan kemudian dipandu oleh moderator Anggi Melani. Sebelum pemaparan materi, jamaah bersama-sama melantunkan Nadzam Asmaul Husna. Mereka juga membaca Shalawat Jibril, Shalawat Nariyah, dan Shalawat Syifa sebanyak tiga kali dengan penuh kekhusyukan.

PCI Muslimat NU Jepang berencana kembali menggelar Pertemuan Syahriah ke-40 pada Ahad, 5 Juli 2026. Kegiatan tersebut diharapkan terus menjadi wadah pembelajaran, penguatan spiritual, serta pendampingan bagi para pekerja migran Indonesia di Negeri Sakura.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *