Perbedaan utama antara washi dan kertas barat terlihat pada bahan serta struktur seratnya. Washi menggunakan serat tanaman seperti kozo, gampi, dan mitsumata, yang memberikan ketahanan lebih baik. Serat panjang tersebut membuat washi kuat namun tetap ringan.
NEWS.KOBA.CO.ID. Kertas washi telah lama menjadi bagian penting dalam budaya Jepang. Bahan tradisional ini bukan sekadar media tulis, tetapi juga simbol estetika yang melekat pada kehidupan masyarakat Jepang. Nilainya semakin meningkat setelah teknik pembuatannya mendapat pengakuan dunia sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO. Washi kini menarik perhatian dunia karena karakter, tekstur, dan fleksibilitasnya yang unik.
Tulisan ini membahas sejarah washi, jenis-jenisnya, proses pembuatannya, hingga lokasi tempat wisatawan dapat mencoba membuat kertas washi secara langsung. Berbagai produk modern berbahan washi juga semakin populer, sehingga menarik untuk dijadikan pilihan bagi pencinta kerajinan Jepang.
Sejarah Kertas Washi
Asal-usul washi berasal dari teknik pembuatan kertas yang awalnya dari Cina ke Jepang. Pada era Heian (794–1185), banyak bangsawan yang menggunakan kertas sebagai media tulis dan dekorasi. Ketika memasuki era Kamakura (1185–1333), penggunaan washi menyebar ke kalangan samurai seiring perpindahan pusat politik.
Teks sejarah juga mencatat proses awal penyebaran teknik pembuatan kertas. Dalam teks “Nihon Shoki” tahun 720 bahwa metode pembuatan tinta dan kertas dari Tiongkok oleh pendeta Buddha asal Korea, Doncho, pada tahun 610. Pangeran Shotoku kemudian menilai kertas Tiongkok terlalu rapuh, sehingga ia mendorong penggunaan serat kozo dan rami yang sudah ada di Jepang.
Memasuki era Edo (1603–1868), washi semakin merakyat. Banyak benda seperti payung tradisional dan shoji memanfaatkan kertas washi karena kekuatan dan keindahannya. Perubahan terjadi saat kertas barat masuk pada era modern. Produksi washi sempat menurun, namun bangkit kembali karena meningkatnya minat terhadap budaya tradisional. Pada tahun 2014, teknik pembuatan washi buatan tangan menjadi sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO. Pengakuan ini memperkuat posisi washi sebagai karya budaya penting yang memiliki nilai tinggi di mata dunia.
Karakteristik Washi dan Perbedaannya dengan Kertas Barat
Sebelum Restorasi Meiji, Jepang tidak mengimpor kertas asing. Produksi lokal mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Ketika Jepang membuka diri terhadap dunia, permintaan kertas meningkat, dan kertas barat mulai masuk dari berbagai negara, termasuk Inggris.
Perbedaan utama antara washi dan kertas barat terlihat pada bahan serta struktur seratnya. Washi menggunakan serat tanaman seperti kozo, gampi, dan mitsumata, yang memberikan ketahanan lebih baik. Serat panjang tersebut membuat washi kuat namun tetap ringan.
Proses tersebut perlahan berkembang menjadi metode “Nagashizuki”, yaitu teknik pembuatan kertas yang memakai campuran neri untuk membantu distribusi serat di air. Keahlian ini kemudian menjadi profesi dari generasi ke generasi. Dari sinilah washi tumbuh menjadi media yang merepresentasikan hubungan erat antara pembuat dan pengguna.
Secara tradisional, pembuatan washi umumnya terjadi saat musim dingin. Para petani menanam kozo dan rami di samping tanaman utama mereka. Air es membantu menjaga serat tetap bersih dan bebas kotoran. Kondisi tersebut memastikan warna serat tidak berubah, sekaligus menghasilkan washi berkualitas tinggi.
Berkembang Pesat
Pada periode Meiji, kebutuhan kertas meningkat pesat. Pergeseran dari washi ke kertas barat semakin terlihat, termasuk peralihan dari proses manual ke mesin. Kendati demikian, washi tetap bertahan dan penggunaannya ada dalam berbagai kegiatan, seperti ritual keagamaan, pembuatan mainan, kipas, pakaian, hingga arsitektur tradisional.
Seiring waktu, seniman, konservator, dan desainer menemukan fungsi baru washi. Kekuatan dan fleksibilitasnya menginspirasi banyak karya modern. Washi kini sering tampil dalam pameran, instalasi seni, diskusi, dan bangunan arsitektur di berbagai negara. Keindahannya membuat banyak orang ingin mengenal lebih jauh potensi kertas tradisional ini.
Pembuatan washi membutuhkan keterampilan tinggi. Setiap langkah melakukannya dengan teliti, mulai dari mengukus batang kozo, menguliti serat, membersihkannya, hingga mencampurnya dengan neri. Campuran ini lalu digoyang berulang menggunakan bingkai kayu. Gerakan ini membuat serat saling mengikat dan membentuk permukaan kertas yang kuat.
Banyak kota di Jepang menawarkan wisata membuat washi. Pengunjung dapat mempelajari teknik dasar, mengenal bahan, hingga membawa pulang hasil karya sendiri. Aktivitas ini menjadi pengalaman budaya yang menarik bagi wisatawan internasional. Inovasi membuat washi semakin relevan. Saat ini, banyak produk seperti tas, dompet, lampu, hingga aksesori mode menggunakan washi sebagai bahan utama. Washi terbukti kuat meski ringan, sehingga cocok untuk berbagai kebutuhan sehari-hari.













