Berita  

Indonesia Jadi Penggerak Utama Pertukaran Budaya Jepang, Minat Belajar Bahasa Jepang Terus Meningkat

ilustrasi
ilustrasi

NEWS. KOBA.CO.ID. Indonesia semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu mitra strategis Jepang dalam membangun hubungan antarmasyarakat melalui pendidikan bahasa. Tingginya minat generasi muda mempelajari bahasa Jepang menjadikan Indonesia sebagai negara dengan jumlah pembelajar bahasa Jepang terbesar kedua di dunia. Capaian tersebut memperlihatkan bahwa pertukaran budaya Jepang tidak lagi sekadar berlangsung melalui seni atau pariwisata, tetapi berkembang kuat melalui sektor pendidikan.

Perkembangan ini juga mempertegas eratnya hubungan Indonesia dan Jepang yang selama puluhan tahun terjalin dalam bidang pendidikan, ekonomi, investasi, hingga ketenagakerjaan. Pembelajaran bahasa Jepang kini menjadi pintu masuk bagi lahirnya generasi muda Indonesia yang memiliki kompetensi global sekaligus memahami budaya kedua negara.
Pernyataan tersebut disampaikan Konsul Jenderal Jepang di Denpasar, Miyakawa Katsutoshi, saat menghadiri sosialisasi pembelajaran bahasa Jepang di Denpasar, Bali, Selasa (21/7/2026). Kegiatan itu mempertemukan puluhan guru dan kepala sekolah untuk memperkuat pengembangan pendidikan bahasa Jepang di Bali.

Indonesia Menjadi Negara dengan Pembelajar Bahasa Jepang Terbesar Kedua

Miyakawa mengungkapkan Indonesia saat ini menempati posisi kedua dunia dalam jumlah pembelajar bahasa Jepang. Posisi tersebut menunjukkan besarnya antusiasme masyarakat Indonesia terhadap bahasa dan budaya Negeri Sakura.
Menurutnya, fenomena itu didorong berbagai faktor. Budaya populer Jepang masih menjadi magnet bagi kalangan muda. Anime, manga, musik, kuliner, hingga teknologi membuat banyak pelajar tertarik mempelajari bahasa aslinya.

Namun, minat tersebut kini berkembang lebih luas. Banyak pelajar memandang kemampuan bahasa Jepang sebagai bekal untuk melanjutkan pendidikan, memperoleh beasiswa, hingga membangun karier internasional. “Indonesia saat ini tercatat sebagai negara dengan jumlah pembelajar bahasa Jepang terbanyak kedua di dunia,” kata Miyakawa.

Data tersebut memperlihatkan bahwa pertukaran budaya Jepang berlangsung secara alami melalui proses belajar bahasa. Semakin banyak generasi muda Indonesia mengenal bahasa Jepang, semakin besar pula peluang memperkuat hubungan kedua negara pada masa depan.

Bali Menjadi Salah Satu Pusat Pembelajaran Bahasa Jepang

Bali menjadi salah satu daerah yang menunjukkan perkembangan pesat dalam pembelajaran bahasa Jepang. Tingginya aktivitas pariwisata internasional membuat kebutuhan penguasaan bahasa asing terus meningkat. Miyakawa menjelaskan lebih dari 150 SMA dan SMK di Bali telah menjadikan bahasa Jepang sebagai mata pelajaran pilihan. Angka itu menunjukkan komitmen sekolah dalam memberikan pilihan kompetensi tambahan kepada peserta didik.

Ketertarikan siswa tidak hanya muncul karena budaya populer. Banyak siswa mulai melihat peluang kerja di perusahaan Jepang maupun kesempatan mengikuti pendidikan tinggi di Jepang. Jumlah mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Jepang juga terus bertambah. Saat ini sekitar 7.000 mahasiswa Indonesia belajar di berbagai universitas Jepang. Peningkatan jumlah mahasiswa tersebut menjadi indikator semakin kuatnya hubungan pendidikan kedua negara. Pendidikan menjadi fondasi penting dalam membangun kerja sama jangka panjang.

Pertukaran Budaya Jepang Membuka Peluang Pendidikan dan Karier

Bahasa Jepang kini berkembang menjadi kompetensi yang memiliki nilai ekonomi. Kemampuan berbahasa membuka akses terhadap berbagai peluang kerja, magang, hingga studi lanjut. Miyakawa menyebut jalur pendidikan bahasa telah membuka kesempatan mengikuti program magang kerja ke Jepang. Pada November 2025, sekitar 2.000 peserta diberangkatkan melalui berbagai program kerja sama.

Menurutnya, bahasa Jepang bukan hanya kumpulan tata bahasa dan kosakata. Bahasa menjadi sarana membangun pemahaman lintas budaya sekaligus mempererat hubungan bilateral Indonesia dan Jepang. Semakin banyak generasi muda yang memahami bahasa Jepang, semakin besar peluang kolaborasi pada sektor industri, pendidikan, kesehatan, teknologi, hingga pariwisata.

Direktur Jenderal The Japan Foundation, Inami Kazumi, menilai pembelajaran bahasa Jepang memiliki dampak jauh lebih besar dibanding sekadar kemampuan komunikasi. Ia menjelaskan belajar bahasa asing berarti memahami nilai, budaya, dan cara berpikir masyarakat negara tersebut. Pemahaman itulah yang menjadi dasar lahirnya hubungan antarmasyarakat yang lebih kuat. “Kami melihat efek jangka panjang yaitu persahabatan antarkedua bangsa. Belajar bahasa asing itu tidak hanya sekedar sebagai alat komunikasi, tapi sekaligus mempelajari budayanya juga,” ujar Inami.

Hasil survei The Japan Foundation pada 2024 menunjukkan sekitar 700 ribu warga Indonesia mempelajari bahasa Jepang. Jumlah itu menjadikan Indonesia sebagai negara dengan pembelajar bahasa Jepang terbesar kedua setelah China. Data tersebut memperlihatkan perkembangan signifikan dibanding satu dekade sebelumnya. Minat belajar terus meningkat seiring semakin luasnya kerja sama Indonesia dan Jepang.

Pertukaran Budaya Jepang Didukung Program Nihongo Partners

Salah satu program yang memperkuat pertukaran budaya Jepang ialah Nihongo Partners. Program ini mengirim penutur asli Jepang ke sekolah-sekolah Indonesia untuk mendampingi guru bahasa Jepang. Kerja sama tersebut berlangsung bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sejak 2014. Program serupa juga berjalan bersama Kementerian Agama sejak 2023.

Hingga kini sekitar 1.000 mitra bahasa telah dikirim ke Indonesia. Mereka membantu proses pembelajaran sekaligus memperkenalkan budaya Jepang secara langsung kepada para siswa. Di Bali sendiri, setiap tahun The Japan Foundation mengirim sekitar tujuh hingga delapan penutur asli. Secara nasional jumlahnya mencapai hampir 120 orang.

Kehadiran penutur asli memberi pengalaman belajar yang lebih autentik. Siswa tidak hanya mempelajari tata bahasa, tetapi juga kebiasaan, etika, dan budaya masyarakat Jepang. Salah satu sekolah yang merasakan manfaat program tersebut ialah SMA Negeri 8 Denpasar. Kepala sekolah I Wayan Sucipta mengatakan sekolahnya rutin menerima pendamping penutur asli sejak 2015.

Setiap penutur asli mendampingi proses belajar selama sekitar enam bulan. Kehadiran mereka membuat suasana belajar menjadi lebih interaktif dan menyenangkan. “Dengan cara itu anak-anak kami antusias belajar bahasa dan budaya Jepang. Mereka juga senang karena menambah kompetensi bahasa asing sehingga membuka wawasan dan peluang kerja,” kata Sucipta.

Menurutnya, siswa menjadi lebih percaya diri menggunakan bahasa Jepang dalam percakapan sehari-hari. Mereka juga memperoleh pemahaman langsung mengenai budaya dan kehidupan masyarakat Jepang. Ke depan, pendidikan bahasa diperkirakan akan terus menjadi jembatan penting dalam memperkuat hubungan Indonesia dan Jepang. Melalui pertukaran budaya Jepang, kedua negara tidak hanya membangun kerja sama ekonomi, tetapi juga menumbuhkan persahabatan antargenerasi yang berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *