NEWS.KOBA.CO.ID. Jepang memiliki beragam kuliner khas yang menawarkan pengalaman berbeda bagi pencinta makanan. Salah satunya shirako, hidangan berbahan kantung sperma ikan jantan yang populer saat musim dingin, terutama di Hokkaido. Bagi sebagian orang, bahan makanan ini mungkin terdengar tidak biasa. Namun, masyarakat Jepang menganggap shirako sebagai sajian istimewa karena teksturnya lembut, rasanya gurih, dan ketersediaannya mengikuti musim.
Hokkaido menjadi salah satu wilayah yang dikenal dengan sajian shirako. Wilayah paling utara Jepang ini memiliki kekayaan hasil laut yang mendukung tradisi kuliner berbasis ikan, terutama ketika suhu mulai menurun. Menurut informasi Visit Hokkaido yang dikutip Kompas.com pada 24 Desember 2024, ikan kod Pasifik dan pollock Alaska mudah ditemukan di supermarket Hokkaido selama musim dingin. Masyarakat setempat juga mengonsumsi machi atau matachi, sebutan untuk kantung sperma ikan kod Pasifik.
Shirako, Sajian Musiman yang Dinantikan
Dalam bahasa Jepang, shirako berarti “anak putih” dan merujuk pada kantung sperma ikan jantan. Bahan ini berasal dari sejumlah jenis ikan, termasuk ikan kod, pollock, dan ikan buntal. Shirako memiliki tampilan putih pucat dengan bentuk memanjang dan berlekuk. Teksturnya lembut, menyerupai krim, dengan sensasi kenyal pada beberapa bagian.
Melansir laman kompas.com, keistimewaan shirako terletak pada karakter rasanya yang gurih dan teksturnya yang mudah meleleh di mulut. Karena itu, sejumlah restoran Jepang menyajikannya sebagai hidangan musiman untuk memberikan pengalaman kuliner berbeda.
Shirako juga memiliki masa terbaik untuk dikonsumsi. Menurut Maulana, Executive Sushi Chef , Shirako itu paling bagus didapat pada pertengahan November hingga pertengahan Januari setiap tahunnya. Ketersediaan dan kualitas shirako bergantung pada jenis ikan serta musim penangkapan. Pada periode musim dingin, sejumlah jenis ikan menghasilkan shirako yang banyak dicari restoran dan pencinta kuliner Jepang.
Dari Laut Hokkaido ke Meja Restoran
Hokkaido memiliki posisi penting dalam tradisi kuliner Jepang berbasis hasil laut. Perairan di sekitar pulau ini menyediakan berbagai jenis ikan yang masyarakat manfaatkan untuk hidangan sehari-hari maupun sajian musiman.
Ikan kod Pasifik dan pollock Alaska termasuk bahan yang berkaitan dengan tradisi konsumsi shirako di wilayah tersebut. Masyarakat dapat menemukan produk ikan musiman di pasar dan supermarket, terutama ketika musim dingin tiba. Namun, tidak semua shirako berasal dari ikan kod. Restoran juga menggunakan bahan dari jenis ikan lain sesuai ketersediaan, tradisi setempat, dan karakter rasa yang ingin mereka sajikan.
Perbedaan jenis ikan memengaruhi tekstur, rasa, serta cara pengolahan shirako. Karena itu, pengalaman mencicipi hidangan ini dapat berbeda antara satu restoran dan restoran lainnya.
Cara Mengolah Shirako agar Teksturnya Tetap Lembut
Koki dapat mengolah shirako melalui beberapa teknik, mulai dari perebusan ringan hingga pemanggangan. Mereka biasanya menjaga suhu dan durasi memasak agar tekstur lembutnya tidak rusak.
Di restoran Sushi Toku, Maulana menjelaskan bahwa koki merebus shirako setengah matang sebelum menyiramnya dengan saus khusus. Penyajian tersebut membantu mempertahankan karakter bahan sekaligus menambahkan rasa.
Shirako juga dapat muncul dalam menu omakase, yaitu pengalaman bersantap ketika koki memilih dan menyajikan hidangan sesuai bahan yang tersedia. Dalam konsep ini, koki dapat memasukkan shirako sebagai menu musiman ketika kualitas bahan sedang baik.
Sebagian restoran menyajikannya dengan saus ponzu, daun bawang, atau parutan lobak. Ada pula yang memanggang shirako untuk menghadirkan aroma lebih kuat dan permukaan yang sedikit kecokelatan.
Pengolahan yang tepat menjadi kunci kenikmatan hidangan ini. Selain menjaga tekstur, koki perlu memastikan bahan tetap segar dan matang secara aman sesuai jenis ikan yang digunakan.
Terasa Unik bagi Pencinta Kuliner?
Bagi orang yang belum terbiasa, gagasan menyantap kantung sperma ikan mungkin menimbulkan rasa ragu. Namun, pengalaman mencicipi shirako tidak hanya berkaitan dengan bahan yang digunakan, tetapi juga tekstur dan cara penyajiannya. Banyan yang menggambarkan sensasi menyantap makanan ini yaitu pecah di mulut.
Tekstur lembut dan rasa gurih menjadi daya tarik utama hidangan ini. Ketika koki mengolahnya dengan tepat, shirako menghadirkan sensasi berbeda dari potongan ikan biasa. Dalam tradisi kuliner Jepang, penggunaan bahan musiman juga memiliki nilai tersendiri. Restoran menyesuaikan menu dengan ketersediaan hasil laut sehingga pelanggan dapat menikmati bahan tertentu pada periode terbaiknya.
Meski demikian, shirako bukan hidangan yang cocok bagi semua orang. Selera, kebiasaan makan, dan penerimaan terhadap bahan makanan yang tidak lazim turut menentukan pengalaman setiap pengunjung.
Tradisi Kuliner Musim Dingin Jepang
Popularitas makana ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Jepang menghargai perubahan musim melalui makanan. Ketika suhu menurun, restoran menghadirkan bahan laut tertentu sebagai bagian dari pengalaman bersantap musim dingin.
Tradisi ini juga memperlihatkan kekayaan kuliner Jepang yang tidak terbatas pada sushi dan ramen. Berbagai daerah memiliki bahan, teknik pengolahan, serta kebiasaan makan yang berkembang mengikuti lingkungan dan sejarah setempat.
Bagi wisatawan, hidangan unik ni dapat menjadi pilihan untuk mengenal sisi lain gastronomi Jepang. Namun, pengunjung sebaiknya menanyakan jenis ikan, cara pengolahan, dan ketersediaan hidangan sebelum memesan.
Konsumen juga perlu memperhatikan keamanan pangan, terutama jika menyantap hidangan laut yang kurang matang. Pilih restoran tepercaya yang menjaga kesegaran bahan serta menerapkan penanganan makanan secara higienis.
Pada akhirnya, keunikan makana ini menawarkan pengalaman kuliner yang menggabungkan tradisi, musim, dan kekayaan hasil laut. Di Hokkaido, hidangan ini menjadi salah satu cara menikmati karakter kuliner Jepang ketika musim dingin tiba.













