Geta, Bakiak Jepang yang Ikonik

geta
Geta bakiak tradisional Jepang yang mendunia

Suara khas Geta saat berjalan menjadi daya tarik tersendiri. Orang Jepang mengenalnya dengan bunyi “karankoron”. Bunyi ini sering muncul dalam suasana festival tradisional.

NEWS.KOBA.CO.ID. Jepang ternyanta mempunyai bakiak atau alas kaki tardisional. Namanya Geta. Sedna; kayu dengan suara khas ini ternyata menyimpan sejarah panjang dan fungsi yang menarik. Maka tidak salah kalau geta menjadi salah satu simbol budaya Jepang yang tetap hidup hingga kini. Pada masa sekarang alas kaki tradisional ini tidak hanya hadir dalam acara budaya, tetapi juga merambah dunia fashion dan cosplay.


Geta terbuat dari kayu. Pada bagian alas atau dai, terdapat tiga lubang untuk memasukkan tali kain yang disebut hanao. Sedangkan pua buah penyangga di bagian bawah populer dengan sebutan ha atau “gigi”. Adanya struktur penyangga ini membuat posisi kaki sedikit terangkat dari tanah.

Bakiak Yang Fungsional

Dalam tradisi masyarakat Jepang, pemakaian geta biasanya saat mengenakan yukata atau kimono non-formal ketika berada di luar ruangan. Bakiak khas Jepang ini tidak hanya unik, tetapi juga fungsional. Hak yang tinggi membantu pemakai melewati jalan basah atau berlumpur saat hujan. Hal ini membuat kaki tetap bersih dan kering.

Sedangkan cara memakainya mirip memakai sandal jepit. Kaki menjepit hanao di antara ibu jari dan telunjuk kaki. Selain itu juga dapat memakainya tanpa kaus kaki saat menggunakan yukata. Namun, banyak orang juga memadukannya dengan kaus kaki tradisional atau tabi.

Suara khas Geta saat berjalan menjadi daya tarik tersendiri. Orang Jepang mengenalnya dengan bunyi “karankoron”. Bunyi ini sering muncul dalam suasana festival tradisional. Selain itu, dalam mitologi Jepang, makhluk bernama Tengu juga mengenakan geta dengan satu gigi. Gambaran ini menambah nilai simbolis pada alas kaki tradisional tersebut.

Mulai Zaman Yayoi

Dalam sejaraghnya geta telah ada semenjak dapat zaman Yayoi. Berdasarkan temuan arkeologi, masyarakat Jepang sudah menggunakan geta sejak masa itu. Mereka memakainya saat bekerja di sawah yang berair. Geta membantu menjaga kaki tetap bersih selama aktivitas pertanian.

Selain itu dalam karya sastra klasik Makura no Sōshi dari zaman Heian, menyebut geta dengan nama Kure no ashida yang merupakan bentuk awal geta. Sementara lukisan dari akhir zaman Heian hingga Sengoku juga sering menampilkan orang memakai geta saat beraktivitas di air.

Perkembangan geta semakin pesat pada zaman Edo. Banyak perajin mulai memproduksi berbagai jenis geta. Inovasi bentuk dan desain membuat geta semakin populer di kalangan masyarakat. Saat Jepang memasuki era modern pada zaman Meiji, pakaian Barat mulai dikenal luas. Meski begitu, masyarakat tetap menggunakan kimono dan geta dalam kehidupan sehari-hari.


Ciri khas geta terletak pada material dan bentuknya. Sebagian besar geta dibuat dari kayu ringan seperti paulownia. Tali kain atau hanao dirancang agar nyaman saat dipakai. Dua penyangga di bawah sol memberikan tampilan khas sekaligus fungsi praktis. Selain digunakan dalam pakaian tradisional, geta kini hadir sebagai bagian dari gaya santai dan cosplay. Harga geta di pasaran cukup bervariasi, mulai dari sekitar Rp100.000 hingga lebih dari Rp280.000, tergantung kualitas dan desain.


Perbedaan geta dengan bakiak Indonesia juga menarik untuk diketahui. Geta merupakan sandal individu yang digunakan oleh satu orang. Sementara itu, bakiak Indonesia atau terompah biasanya berupa papan panjang yang digunakan bersama-sama dalam permainan kelompok. Perbedaan ini menunjukkan fungsi sosial yang berbeda dari masing-masing budaya.

Saat ini, geta tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga berkembang mengikuti tren modern. Banyak desainer mengadaptasi bentuk geta ke dalam fashion kontemporer. Hal ini membuat geta tetap relevan di berbagai kalangan, termasuk generasi muda. Dengan kombinasi nilai sejarah dan inovasi, geta terus melangkah dari masa lalu menuju masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *