Pemerintah Indonesia mengusulkan penambahan kuota pemagangan ke Jepang. Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Yassierli, menyebut penembahan kuota Program Magang Nasional 2026 menjadi 150 ribu peserta.
Dalam kunjungannya Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Kota Bekasi pada Rabu (8/4), menteri Yassierli menegaskan bahwa Jepang masih menjadi negara tujuan paling mendapatkan peminat. Kemudian Yassierli menekankan bahwa pemerintah memiliki visi memperluas akses pelatihan vokasi dan magang sebagai bagian dari strategi pembangunan SDM unggul.
Selain itu Yassierli mengusulkan peningkatan kuota Program Magang Nasional 2026 menjadi 150 ribu peserta. Angka ini jauh lebih besar daripada tahun-tahun sebelumnya. Usulan ini muncul sebagai respons terhadap tingginya minat masyarakat untuk mengikuti program magang, baik di dalam maupun luar negeri. Selain itu, industri di berbagai sektor juga terus mencari pekerja kompeten yang memiliki pengalaman praktik langsung dan memahami budaya kerja internasional.
Menjadi Rujukan
Dengan memperbesar kuota, pemerintah berharap peserta dapat memperoleh kesempatan lebih luas untuk belajar, beradaptasi, dan meningkatkan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pasar tenaga kerja global. Namun, menurutnya hambatan bahasa tetap menjadi pekerjaan rumah yang harus segera pemerintah selesaikan.“Untuk Jepang, rata-rata hampir 20.000 peserta dalam satu tahun. Tantangannya memang adalah di bahasa,” ujar Yassierli ujarnya.
Kemudian Yassierli menjelaskan bahwa keberhasilan penempatan peserta magang ke Jepang selama ini menjadi rujukan penting bagi pemerintah dalam merancang perluasan peluang ke negara lain. Menurutnya pola magang ke Jepang terbukti berhasil membentuk tenaga kerja terampil dan berdaya saing tinggi. “Kami ingin best practice dari Jepang inilah yang nanti akan menjadi acuan. Misalnya untuk ke Australia, Korea, Rusia, beberapa negara Timur Tengah, Taiwan, dan seterusnya,” ujar Yassierli.
Saat ini, lanjut Yassierli antusiasme masyarakat terhadap program magang luar negeri semakin tinggi setiap tahun. Kondisi ini memperlihatkan bahwa program tersebut berperan besar dalam membuka peluang karier global dan meningkatkan daya saing angkatan kerja Indonesia.
Tantangan Bahasa Jadi Fokus Pemerintah
Meski minat dan peluang penempatan ke Jepang meningkat, Yassierli menekankan bahwa kemampuan bahasa peserta masih menjadi hambatan utama. Banyak calon pekerja yang lolos seleksi teknis tetapi gagal memenuhi standar bahasa negara tujuan. Untuk itu pemerintah akan memperkuat standar pelatihan bahasa di seluruh balai pelatihan vokasi. “Nanti bagaimana kami di balai-balai juga bisa membuat pelatihan-pelatihan bahasa bisa lebih efektif,” katanya.
Selaras dengan itu, ia menyebut bahwa Presiden RI telah memberikan arahan khusus untuk memperbaiki kualitas pelatihan bahasa agar peserta magang lebih siap menghadapi tantangan di negara tujuan. “Dan ini juga sebenarnya sudah menjadi instrruksi oleh Pak Presiden,” ujarnya.
Yassierli menekankan bahwa peningkatan kuota harus juga upaya peningkatan kualitas pelatihan. Pemerintah tidak ingin sekadar menambah jumlah peserta tanpa memastikan mereka benar-benar siap memasuki pasar kerja internasional.
Ia menegaskan bahwa kompetensi bahasa, kesiapan mental, serta pemahaman budaya kerja menjadi tiga faktor penting untuk melakukan penguatan. Dengan semakin kuatnya ekosistem pelatihan vokasi, pemerintah berharap lebih banyak generasi muda Indonesia mampu bersaing dan mengukir prestasi di luar negeri.













