Kyoto dikenal memiliki kualitas air tanah yang sangat murni berkat lokasinya yang berada pada lembah pegunungan. Faktor inilah yang membuat kota tersebut menjadi pusat penghasil yuba terbaik di Jepang.
NEWS.KOB.CO.ID. Kulit tahu atau yuba terus menarik perhatian para pecinta kuliner di seluruh dunia. Hidangan tradisional ini lahir dari budaya kuliner Jepang dan berkembang pesat di Kyoto, wilayah yang dikenal sebagai pusat masakan klasik negeri tersebut. Teksturnya yang lembut, rasanya yang ringan, serta kandungan protein nabati yang tinggi menjadikan yuba bukan hanya makanan lezat, tetapi juga pilihan sehat yang kini semakin populer di berbagai negara.
Sejarawan kuliner meyakini bahwa yuba pertama kali tiba di Jepang setelah seorang biksu Zen membawanya dari Tiongkok pada abad ke-13. Pada masa Periode Kamakura (1185–1333), para biksu Buddha di wilayah Kyoto memasukkan yuba ke dalam shojin ryori, masakan vegetarian khas kuil Zen yang sangat menghargai kesederhanaan dan kemurnian bahan.
Selama Periode Edo (1603–1868), masyarakat umum mulai menikmati hidangan ini. Saat itu, yuba meluas dari dapur kuil ke rumah tangga dan menjadi salah satu bahan penting dalam kaiseki ryori, hidangan haute cuisine Jepang yang disajikan dalam beberapa tahapan. Popularitasnya terus bertahan hingga kini, bahkan berkembang melampaui budaya tradisional menuju panggung kuliner internasional.
Bahan Sederhana, Nutrisi Luar Biasa
Yuba hanya membutuhkan dua bahan utama yaitu kedelai dan air. Meski sederhana, kombinasi ini menghasilkan makanan kaya protein nabati berkualitas tinggi, vitamin B, mineral seperti kalsium, kalium, dan magnesium, serta serat makanan yang baik untuk pencernaan. Tren hidup sehat dan meningkatnya jumlah vegan dan vegetarian membuat yuba semakin banyak yang mencarinya. Banyak orang menjadikannya alternatif daging atau sumber protein utama dalam pola makan berbasis tumbuhan.
Produsen yuba umumnya merendam kedelai selama satu malam untuk memastikan biji kedelai mengembang sempurna. Setelah itu, mereka menggiling kedelai bersama air hingga menjadi campuran halus. Proses berikutnya memisahkan susu kedelai dari okara atau ampasnya. Susu kedelai kemudian dimasak perlahan di dalam panci lebar bersuhu stabil. Saat campuran panas bersentuhan dengan udara, lapisan tipis protein terbentuk di permukaannya. Pengrajin kemudian menarik lapisan tersebut secara perlahan menggunakan sumpit panjang. Inilah yuba segar yang terkenal memiliki tekstur unik dan rasa alami kedelai.
Lapisan pertama yang terangkat biasanya memiliki kualitas terbaik karena mengandung konsentrasi protein paling tinggi. Semakin lama yuba berada di permukaan, teksturnya menjadi semakin tebal dan rasanya semakin padat.
Rumah Terbaik bagi Yuba?
Kyoto dikenal memiliki kualitas air tanah yang sangat murni berkat lokasinya yang berada pada lembah pegunungan. Faktor inilah yang membuat kota tersebut menjadi pusat penghasil yuba terbaik di Jepang. Karena yuba hanya terdiri dari dua bahan utama, kejernihan air menjadi unsur penentu kualitas rasa dan aroma.
Produsen lokal mempertahankan metode tradisional untuk menjaga cita rasa yang tetap otentik. Kombinasi udara bersih, air berkualitas tinggi, dan teknik turun-temurun membuat Kyoto menjadi destinasi wajib bagi pencinta kuliner kedelai.
Rasanya yang ringan memungkinkan hidangan ini berpadu sempurna dengan berbagai masakan. Banyak restoran menyajikannya sebagai sashimi, sup susu kedelai, salad, semur, hingga gorengan renyah. Teksturnya yang lembut dan aroma kedelai yang kaya menciptakan pengalaman kuliner yang berbeda dari produk kedelai lainnya.
Yuba bukan hanya makanan kuno dari Jepang. Kuliner ini kini menjadi simbol gaya hidup sehat, seni kuliner tradisional, dan kualitas bahan alami. Sejarah panjangnya yang bermula dari kuil Zen hingga restoran modern Kyoto menunjukkan bahwa yuba telah melintasi zaman tanpa kehilangan keaslian rasa.
Bagi wisatawan maupun pencinta kuliner, mencicipi makanan ini di Kyoto memberikan pengalaman mendalam tentang bagaimana sebuah makanan sederhana dapat bertahan dan berkembang menjadi ikon budaya yang mendunia.













