Kastil Nagoya, Simbol Kejayaan Samurai yang Bangkit dari Kehancuran Perang

Kastil nagoya
Kastil Nagoya menjadi simbol sejarah Jepang yang bangkit setelah Perang Dunia II dan kini menjadi destinasi wisata budaya populer. ( foto dok pexels/Heather Mallon )

Ciri khas lainnya adalah dua shachi emas yang berada pada atap kastil menjadi ciri khas Kastil Nagoya. Shachi merupakan makhluk mitologi berbentuk ikan berkepala harimau yang menurut kepercayaan mampu melindungi bangunan dari kebakaran. Karena ornamen itu, kastil juga masyhudr dengan nama Kinjō atau “Kastil Emas”.

NEWS.KOBA.CO.ID. Kastil Nagoya menjadi salah satu ikon paling terkenal dalam sejarah Jepang. Bangunan megah ini berdiri di Kota Nagoya dan menyimpan kisah panjang sejak era samurai hingga masa modern. Kastil tersebut tidak hanya menjadi pusat pemerintahan pada zaman Edo, tetapi juga lambang kebangkitan budaya Jepang setelah Perang Dunia II.

Kastil Nagoya berdiri sejak awal abad ke-17 oleh klan Tokugawa. Lokasinya berada dalam bekas benteng milik klan Oda pada masa Sengoku. Dalam perkembangannya kastil ini kemudian menjadi pusat penting untuk wilayah Owari. selain itu juga menjadi fondasi lahirnya Kota Nagoya modern.

Dalam catatan sejarah pembangunan kastil berlangsung antara tahun 1610 hingga 1619. Adalah Tokugawa Ieyasu yang memerintahkan pembangunan kastil ini. Tujuannya untuk memperkuat kekuasaan Tokugawa di wilayah Jepang tengah. Proyek besar itu melibatkan banyak daimyo atau penguasa feodal dari berbagai daerah Jepang. Katō Kiyomasa, Fukushima Masanori, dan Maeda Toshimitsu termasuk tokoh yang membantu pembangunan kastil tersebut. Batu-batu besar yang mereka bawa masih ada pada area kastil hingga sekarang.

Memadukan Pertahanan Militer dan Kemewahan Khas Jepang

Pembangunan Kastil Nagoya menggunakan batu granit, kayu, dan struktur tanah yang kuat. Kemudian arsitektur kastil memadukan pertahanan militer dengan kemewahan khas bangsawan Jepang. Menara utama kastil atau tenshu menjadi simbol paling terkenal dari bangunan ini.

Ciri khas lainnya adalah dua shachi emas yang berada pada atap kastil menjadi ciri khas Kastil Nagoya. Shachi merupakan makhluk mitologi berbentuk ikan berkepala harimau yang menurut kepercayaan mampu melindungi bangunan dari kebakaran. Karena ornamen itu, kastil juga masyhudr dengan nama Kinjō atau “Kastil Emas”.

Selain berfungsi sebagai benteng pertahanan, Kastil Nagoya menjadi pusat administrasi dan tempat tinggal cabang Owari dari klan Tokugawa. Cabang Owari terkenal sebagai salah satu garis keturunan Tokugawa paling berpengaruh pada masa Edo. Tokugawa Yoshinao menjadi penghuni pertama kastil pada tahun 1620. Setelah itu, perluasan dan pembangunan kastil terrus berlangsung, termasuk penambahan gerbang, kuil, taman, dan aula megah di area Honmaru.

Istana Honmaru menjadi bagian paling mewah di kompleks kastil. Banyak seniman terkenal menghiasi dinding dan pintu geser dengan lukisan tradisional Jepang. Kanō Sadanobu dan Kanō Tan’yū termasuk pelukis yang terlibat dalam dekorasi istana tersebut.

Kastil Nagoya mengalami berbagai renovasi selama ratusan tahun. Atap, menara, dan shachi emas beberapa kali mengalami perbaikan akibat cuaca dan penurunan tanah. Pada abad ke-18, pemerintah Domain Owari bahkan melebur ulang shachi emas karena kondisi ekonomi yang memburuk.

Era Meiji

Memasuki era Meiji, kekuasaan keshogunan Tokugawa runtuh. Kastil Nagoya kemudian berada di bawah kendali pemerintah dan keluarga kekaisaran Jepang. Sebagian area kastil sempat menjadi markas militer. Pada tahun 1871, shachi emas kastil pindah ke Tokyo untuk dipamerkan. Salah satunya bahkan tampil dalam Pameran Dunia Wina tahun 1873. Langkah itu membuat Kastil Nagoya semakin terkenal di dunia internasional.

Gempa Mino–Owari tahun 1891 sempat merusak beberapa bagian kastil. Pemerintah Jepang kemudian melakukan perbaikan pada menara dan tembok yang runtuh. Pada tahun 1930, kepemilikan Kastil Nagoya resmi berpindah menjadi milik Pemerintah Kota Nagoya. Sejak saat itu, kawasan kastil terbuka untuk umum dan menjadi destinasi wisata sejarah.

Namun, tragedi besar terjadi saat Perang Dunia II. Serangan udara Amerika Serikat pada 14 Mei 1945 menghancurkan sebagian besar bangunan kastil. Menara utama, Istana Honmaru, dan shachi emas hangus terbakar akibat bom. Meski begitu, beberapa lukisan penting berhasil terselamatkan sebelum serangan terjadi. Pemerintah Jepang kemudian menetapkan sisa bangunan kastil sebagai aset budaya penting nasional.

Rekonstruksi Kastil Nagoya mulai kembali pada tahun 1957. Pemerintah membangun kembali menara utama menggunakan teknologi modern. Proyek itu selesai pada tahun 1959 dan kastil kembali menjadi daya tarik wisatawan. Pada abad ke-21, Pemerintah Kota Nagoya terus melakukan restorasi besar-besaran. Rekonstruksi Istana Honmaru terjadi lagi pada tahun 2009 dan selesai pada tahun 2018. Restorasi ini tetap mempertahankan desain tradisional Jepang.

Wali Kota Nagoya, Takashi Kawamura, juga mengumumkan rencana pembangunan ulang menara utama menggunakan kayu asli seperti struktur awalnya. Proyek tersebut membutuhkan kayu hinoki berkualitas tinggi dari Prefektur Gifu. Kastil Nagoya kini menjadi salah satu destinasi wisata budaya paling populer di Jepang. Ribuan wisatawan datang setiap tahun untuk menikmati keindahan arsitektur, taman, dan sejarah samurai yang melekat di dalamnya.

Nama Meijō yang berasal dari Kastil Nagoya juga digunakan untuk berbagai fasilitas di kota tersebut. Beberapa di antaranya ialah Taman Meijō, Jalur Meijō Subway Nagoya, dan Universitas Meijo. Keberadaan Kastil Nagoya membuktikan bahwa bangunan bersejarah mampu bertahan melintasi zaman. Meski pernah hancur akibat perang, kastil ini kembali berdiri dan menjadi simbol kebanggaan masyarakat Jepang hingga sekarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *